JADI KORBAN: Agus “Awank” Setiawan selalu menjadi pilihan utama pelatih PSS Sleman di sejumlah pertandingan penting. Dia menjadi salah satu pemain yang dikenai sanksi berat oleh Komdis

Desak Manajemen Serius Fasilitasi Banding

SLEMAN-Pelatih PSS Sleman Herry Kiswanto akhirnya angkat bicara soal hukuman seumur hidup dan denda Rp 200 juta yang dijatuhkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bebe-rapa waktu lalu.Sebagai pelatih kepala, pria yang akrab disapa Herkis ini dianggap terlibat langsung dalam skandal sepak bola gajah dalam laga PSS v PSIS Semarang di Stadion Sasakrida Akademi Angka-tan Udara (AAU) pada pertandingan terakhir babak Delapan Besar Divisi Utama 2014, Minggu (26/10) lalu.
Pria asal Jawa Barat (Jabar) ini mengatakan, sanksi dari Komdis ini benar-benar salah alamat. Sebab, Herkis memastikan kalau dirinya sama sekali tidak menginstruksikan Hermawan Putra Jati dan Agus Setiawan membuat dua gol bunuh diri ke gawang Super Elang Jawa (Super Elja) yang dijaga Riyono. “Menurut saya jelas hukuman seumur hidup ini sangat tidak tepat. Saya juga sudah memberikan penjelasan pada Komdis kalau saya tidak pernah menginstruksikan pemain melakukan gol bunuh diri secara sengaja,” kata mantan pelatih Persiraja Banda Aceh tersebut.Sosok yang sempat dijuluki mr. Clean karena hanya mendapat dua kartu kuning selama ka-riernya sebagai pemain ini menganggap dirinya tidak punya kepentingan apa-apa menyuruh anak asuhnya melakukan gol bunuh diri. Seti-daknya perkataan Herkis dikuatkan dengan tindakannya meninggalkan bench saat melihat laga PSS dan PSIS sudah tidak berjalan seba-gaimana mestinya. “Jelas sangat konyol jika saya berbuat seperti itu. Lagipula saya tidak menda-patkan keuntungan apa-apa bila mengarahkan para pemain melakukan tindakan diluar azas fair play seperti itu,” ucapnya.
Ya, Herkis juga bercerita panjang lebar soal pilihannya meninggalkan bangku pelatih di pertengahan babak kedua. Kata dia, pada per-tengahan laga dirinya sudah merasa tidak enak hati melihat jalannya pertandingan. Saat PSS menguasai bola, PSIS sebagai lawan sama sekali tidak mau memberikan pressing.
Saat meliihat jalannya laga seperti itu Herkis sudah merasa kalau PSS maupun PSIS akan mendapatkan sanksi minimal teguran. Dan betapa kagetnya dia, saat sudah tak berada di bench tercipta lima gol bunuh diri yang seluruhnya terjadi pada 10 menit terakhir pertandingan. “Setelah saya men-dengar ada lima gol bunuh diri saya juga kaget. Saya pun langsung menanyai pemain dan mereka pun tidak dapat berkata apa-apa,” tegasnya.
Herkis juga ber-harap manajemen benar-benar memper-juangkan proses bandingnya. Sebab dengan dihukum seumur hidup, hak asasinya untuk mencari makan di sepak bola tengah te-renggut. “Saya masih ingin berkecimpung di sepak bola. Untuk itu saya berharap manajemen memfasilitasi banding secara serius,” ucapnya.
Ia juga meminta Komdis PSSI melakukan in-vestigasi secara menyeluruh terkait penye-lenggaraan Divisi Utama. Sebab suka tidak suka, tindakan tidak sportif yang dilakukan pemain merupakan akibat dari ketakutan mereka ber-temu Pusamania Borneo FC. Sudah menjadi rahasia umum kalau reinkarnasi dari Perseba Super Bangkalan tersebut kerap mendapatkan perlakuan istimewa dari wasit. “Rekan-rekan pelatih yang timnya pernah menghadapi Borneo FC juga mengatakan seperti itu. Nonteknis Bor-neo FC terlalu parah. Jadi bisa dibilang laga PSS v PSIS adalah imbasnya,” jelasnya.
Senada dengan Herkis, salah satu ekse-kuor bunuh diri, Agus Setiawan juga berha-rap manajemen serius membanding huku-man seumur hidup yang dijatuhkannya.Apalagi pria yang akrab disapa Awank ini memiliki seorang istri dan seorang anak yang masih berumur lima tahun. Ia pun belum ter-pikirkan bagaimana menjalani hidupnya jika nantinya sanksi tersebut sama sekali tidak direvisi oleh Komisi Banding (Komding) PSSI. “Memang saya punya bisnis kupat tahu, tapi itu bisnis keluarga. Kalau dikatakan cukup ya cukup saja. Tapi tetap saja mata pencaha-rian utama saya ada di sepak bola sehingga sangat berharap manajemen serius melaku-kan banding,” paparnya. (nes/din/ong)