RADAR JOGJA FILE
WACANA : Pemain PSS Sleman Saktiawan Sinaga (putih) berebut bola dengan pemain Putra Samarinda (Pusam) dalam laga di Maguwoharjo International Stadium (9/3) lalu.

Ibnu: Itu Membuat PSS Tidak Berbenah

SLEMAN-Setelah sempat simpang siur, Bupati Sleman Sri Purnomo akhirnya menepati janjinya memfasilitasi pertemuan antar-stakeholder PSS Sleman. Pertemuan yang digelar Minggu malam (23/11) lalu di Rich Sahid Hotel dalam rangka membahas kelanjutan nasib Super Elang Jawa (Super Elja) pasca kasus sepak bola gajah.
Meskipun belum merumuskan sesuatu hal yang krusial, banyak wacana yang terlontar dari pertemuan tersebut. Salah satunya ialah rencana merger dengan salah satu klub Indonesian Super Lague (ISL) Putra Samarinda (Pusam). Kebetulan, akibat kehadiran Pusamania Borneo FC di Samarinda, Pusam banyak kehilangan fans sehingga berencana keluar dari Pulau Kalimantan.
Adanya wacana ini diakui oleh salah satu peserta musyawarah, Hendricus Mulyono. Menurut pria yang akrab disapa Mbah Mul tersebut, apapun wacana yang muncul ditampung. Nantinya itu akan diolah oleh tim perumus masa depan PSS yang kemungkinan dibentuk pada pekan ini.
“Jadi ada wacana PSS merger dengan Pusam. Namanya tetap PSS namun menggunakan lisensi tanding Pusam untuk berlaga di ISL. Wacana ini jelas akan kami tampung untuk dibahas oleh tim perumus yang akan dibentuk pekan ini,” ujar sosok yang juga Ketua Umum (Ketum) PSSI Kabupaten Sleman tersebut.
Namun wacana merger ini belum-belum sudah mendapat tentangan dari beberapa pihak. Salah satu sesepuh sepak bola Sleman yang kebetulan tidak hadir dalam musyawarah stakeholder Ibnu Subiyanto mengatakan tidak setuju dengan wacana ini. Memang, jika wacana ini bergulir, nama PSS tidak akan hilang, hanya menggunakan lisensi tanding ISL milik Pusam.
Tetapi menurutnya, cara ini tidak akan membuat PSS berbenah. Menurutnya cara terbaik adalah menerima kenyataan dan menata diri untuk menatap masa depan. “Cara merger ini memang akan membawa PSS ke ISL. Tetapi ini tidak akan membuat PSS berbenah,” tegasnya.
Selain itu, jika PSS sampai bermain di kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu justru akan menyakiti hati masyarakat sepak bola Indonesia. Ya, betapa tidak pantasnya klub yang sudah didiskualifikasi karena melakukan tindakan memalukan justru tampil di ISL. “Nah ini juga yang bakal menjadi kontroversi, Kok bisa tim yang sudah dilikuidasi dari Divisi Utama malah promosi ke kasta tertinggi,” paparnya.
Ibnu juga menyerukan agar pihak yang terlibat dalam skandal sepak bola gajah tidak lagi terlibat dalam kepengurusan PSS musim depan. Karenanya perombakan secara menyeluruh sangat dibutuhkan Super Elja.
Tentangan wacana merger juga meluncur dari mulut Pelaksana Tugas (PLt) Ketua Umum (Ketum) Slemania Lilik Yulianto. Menurutnya, merger ini berpotensi merusak sejarah PSS yang sudah dibangun sejak tahun 1976.
“Sekarang siapa yang menjamin merger ini tidak akan merubah nama PSS. Dan yang jelas merger sama saja membuat PSS berubah menjadi tim lain. Jelas saya tidak akan setuju,” katanya.
Terpisah, sesepuh sepak bola Sleman lainnya, Sukidi Cakrasuwignya mengungkapkan, tim perumus masa depan PSS akan terdiri dari tujuh unsur. Unsur-unsur tersebut adalah PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) selaku pengelola, PSSI Kabupaten Sleman, KONI Sleman, klub amatir pemilik asli PSS, pendiri, suporter dan Pemda Sleman.
Menurut Mbah Kidi-panggilan akrab Sukidi- sekarang bukan saatnya lagi saling menyalahkan. Apalagi tragedi sepak bola gajah sudah telanjur terjadi. Yang terpenting kata dia semua pihak harus duduk bersama membahas keikutsertaan PSS di kompetisi tahun 2015.
“Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang saatnya tatap ke depan. Yang kemarin berbuat dosa ya segera bertaubat. Kita songsong kompetisi 2015 dengan gembira. Kesedihan tidak boleh diratapi terlalu lama,” ucapnya. (nes/din/ong)