Tiga Hari Dua Malam Studi Banding Undang-Undang Desa

SLEMAN- Akhir 2015 musim pelesiran bagi aparat Pemkab Sle-man. Kemarin (25/11), sebanyak 83 kepala desa (kades) berwisata ke Bali. Seharusnya semua kades diajak dalam ajang wisata yang dibalut kegiatan studi banding UU Desa ke Dusun Batuan, Desa Suko-wati, Kabupaten Gianyar itu
Mereka berada di Pulau Dewata selama tiga hari dan menginap di hotel dua malam. Rombongan dijadwalkan kembali ke Sleman Kamis (27/11). Terdapat tiga kades yang tidak ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Yakni Lekta Manuri (Sumberharjo, Prambanan), Sebrat Harjanti (Balecatur, Gam-ping), dan Imindi Kasmianta (Maguwoharjo, Depok).
Agenda itu difasilitasi Bagian Pemerintahan Desa Sekretariat Daerah Sleman di era kepemim-pinan Sukarno selaku kepala bagian. Kegiatan ini bekerjasama dengan agen travel KARIKAtour.Sukarno berdalih, kegiatan ter-sebut merupakan tindak lanjut pelatihan pengelolaan anggaran desa yang dilakukan oleh BPKP, Kejati DIJ, dan DPKAD Sleman. “Ke desa itu untuk orientasi pelatihan lapangan,” katanya.
Kunjungan kerja kades ke Bali ini menuai banyak kritik karena dianggap pemborosan anggaran. Selain itu, agenda selama berada di Bali lebih banyak diisi kegiatan wisata dan kuliner. Bahkan tercatat hanya sekali mereka melakukan kunjungan resmi. Para peserta berkumpul di Bandara Adi Sutjipto pada pukul 06.00. Sesampai di Bandara Ngurah Rai, perjalanan langsung menuju objek wisata Tanah Lot hingga pukul 12.00. Dilanjutkan makan siang, lalu wisata belanja kaos khas Bali Joger. Kemudian makan malam di pusat oleh-oleh setempat dan berakhir di hotel.
Kunjungan ke Gianyar dijadwal-kan pada hari ke dua. Lalu, belanja oleh-oleh makanan khas di Krisna. Sore harinya, pukul 16.00 para peserta diajak menonton pemen-tasan Tari Klasik Tradisional di Garuda Wisnu Kencana (GWK). Sebelum kembali ke hotel, para peserta dijamu makan malam sea food di kawasan Jimbaran.
Jadwal ini berdasarkan brosur agenda kegiatan yang dipegang setiap peserta. Hari terakhir di Bali diisi dengan persiapan cek out hotel dan menuju bandara untuk penerbangan ke Jogjakarta pukul 06.50. Anggaran setiap peserta dipagu Rp 1,3 juta plus uang saku Rp 300 ribu. Dana ini diambilkan dari APBD Sleman.
Anggota Forum Pemantau In-dependen (Forpi) Sleman Hempri Suyatna menyayangkan kegiatan yang terkesan hura-hura semata. Apalagi, kegiatan dilakukan di akhir tahun, saat pemerintahan disibuk-kan membahas perencanaan desa untuk 2015. “Kalau acaranya untuk peningkatan kapasitas kades kenapa jadwalnya justru lebih banyak wisatanya,” sindir dosen Sosiatri, Fisipol, UGM ini.
Menurut Hempri, kesan pem-borosan muncul karena pembe-rangkatan kades secara serentak. Bahkan, pekan depan giliran para camat yang dipelesirkan ke Batam. “Ada apa ini, kok, para pemangku wilayah dipiknikkan pakai APBD,” katanya.
Kades Sumberharjo Lekta Manuri membenarkan bahwa ada agenda akhir tahun ke Bali terkait studi banding UU Desa. Tapi, mantan anggota dewan Sleman itu memilih tidak berangkat. “Sudah pernah (ke Bali). Saya juga diajak, tapi mending ngaboti kerjaan kantor,” jelasnya. Menurut dia, pekerjaan menum-puk tiap akhir tahun. Terutama menyusun RPJMDes dan RAPB-Des. (yog/din/ong)