GUNAWAN/RADAR JOGJA
PASUTRI GURU: Tulus DJoko Sarwono dan Sri Puji Astuti saat ditemui di rumahnya, Playen, Gunungkidul.

Mendidik Sepenuh Hati, Tak Mau Gunakan Otot

Tugas guru adalah mendidik dan mentransfer ilmu untuk generasi penerus. Untuk itu, caranya pun harus tepat. Kalau tidak pas, maka bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak.
GUNAWAN, Gunungkidul
DEMIKIAN disampaikan secara kompak oleh pasangan suami istri (pasutri) pensiu-nan guru sekolah dasar (SD) di Gunungki-dul. Namanya Tulus DJoko Sarwono dan Sri Puji Astuti. Mereka tinggal di sebelah timur kantor Kecamatan Playen. Ditemui Radar Jogja (24/11), ortu dua anak ini menyambut ramah. Meski sudah purna tugas, naluri keguruan masih melekat. Terlihat dari bagaimana menjaga ucapan maupun cara berdialog. Tulus sudah pensiun sejak 1 Oktober 2012. ” Kalau istri saya baru awal bulan kemarin ( pensiun),” kata Tulus.
Praktis sejak saat itu keduanya tidak lagi mengajar. Tapi jangan salah, meski sudah tidak ngantor, siswa tetap hilir mudik datang ke rumah mereka. “Kami persilakan saja anak-anak datang ke rumah. Jujur, saya bahagia campur haru,” saut Sri Puji Astuti usai meletakkan segelas teh di meja. Ibu berkerudung ini kemudian duduk di sebelah suaminya. Mereka pun seolah kem-bali bernostalgia dengan masa lalu ketika mulai mengajar di era 70-an. Kata Tulus, pertama kali jadi guru SD sejak 1973, tepat-nya di SD Wiloso II, Petung, Giriwungu, Panggang, Gunungkidul. “Turun dari nunut truk muatan gaplek, jalan kaki empat kilo-meter baru sampai sekolahan. Badan putih semua kena tepung gaplek,” ujar alumnus SPG 1970 ini, mengenang
Sampai sekarang SD itu masih ada. Bahkan anak didiknya juga sering ketemu. Banyak di antaranya sudah menjadi ‘orang’. Bekerja di birokrasi, ada juga yang jadi pe-ngusaha sukses. “Kalau ketemu dengan saya, sekarang (muridnya dulu) malu-malu,” terangnya. Tatapan mata ayah tiga cucu ini mulai menerawang. Dia asyik bercerita bagaimana dulu sosok guru digugu dan ditiru.
“Cukup berat memang, namun profesi guru panggilan hati. Mendidik murid tentu juga harus dengan hati, supaya berbekas sampai hati,” timpal Sri.
Tanpa disadari, gaya mendi-diknya disukai anak-anak. Meski sudah pensiun, ia masih dika-ngeni dan dihormati. “Sering anak-anak telepon tanya kabar, kemudian datang rame-rame ke rumah,” ungkapnya.
Orang tua Artopo Priyosetiawan dan Artanti Setianingsih ini kem-bali melanjutkan cerita masa lalu. Kembali Tulus mengingat pada saat datang atau pulang sekolah disalami para murid. Bahkan, tas yang dibawa jadi rebutan untuk dibantu dibawa-kan. “Maka, ketika saya men-jadi Kepala Sekolah SDN Karangrejek II, Wonosari, budaya akrab dengan anak ini kami lanjutkan,” bebernya.
Hubungan baik dengan wali murid terus ditingkatkan. Sam-pai- sampai dia sempat mem-buat semacam organisasi khu-sus wali murid. Mereka berkum-pul dalam satu kesempatan untuk diajak berdiskusi per-kembangan anak. “Sebab, kalau tidak dikontrol, pergaulan anak siapa yang memantau,” ujarnya
Dikatakan, jangan semua beban mendidik anak diserahkan kepada guru. Perlu diketahui, ada di an-tara pendidik belum memiliki jiwa mengajar. Pandai dalam akademik, namun kurang dalam ilmu jiwa. “Maksudnya, jalani profesi guru dengan hati. Karena ilmu akan nyambung ke anak kalau penyam-paian juga dari hati. Karakter anak kan, beda-beda. Jadi, tugas guru menyesuaikan. Jangan mengguna-kan otot,” ujarnya.
Tulus sendiri mengakhiri ja-batan PNS sebagai Kepala SDN Karangrejek II, Wonosari. Se-mentara Sri Puji Astuti di SDN Playen. (*/laz/ong)