Manajemen Masih Tunggu Surat dari Komdis

SLEMAN – Manajemen PSS Sleman memastikan akan mem-fasilitasi banding seluruh pihak-pihak yang mendapatkan huku-man dari Komisi Disiplin (Kom-dis) PSSI akibat skandal sepak bola gajah pada laga lawan PSIS Semarang yang terjadi Minggu (26/10) lalu. Bukan hanya pemain dan pelatih, PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) selaku peng-elola Super Elang Jawa (Super Elja) juga akan menfasili-tasi banding yang dijatuh-kan kepada manajemen.
Pekan lalu, PSSI menjatuhkan sanksi larangan aktif di sepak bola selama seumur hidup serta dendaRp 200 juta kepada Se-kretaris Tim PSS Erry Febrianto dan Direk-tur PT PSS Rumadi.
Awalnya PT PSS tidak akan memberikan fasilitasi pada ke-dua sosok tersebut.
Namun, dalam pertemuan yang dilakukan kemarin, Direktur PT PSS Supardjiono memastikan semua hukuman yang sudah dikeluarkan tetap diban-ding. “Bu-kan cuma pemain dan pelatih tapi semuanya juga akan mendapat fasilitasi banding dari PT PSS,” kata Pardji kemarin.
Menurut dia, anggota mana-jemen yang terhukum jelas memiliki hak meminta pegu-rangan hukuman dari Komisi Banding (Komding) PSSI. Ter-lebih lagi untuk Rumadi, pria ini sudah cukup berjasa di PSS.
“Manajemen yang terhukum seumur hidup ini kan juga kasihan. Mereka masih bisa berbuat lebih untuk perjalanan PSS ke depan. Makanya Pak Rum terutama juga harus di-bantu untuk melakukan ban-ding,” tegasnya.
Namun sayangnya, banding belum bisa dilakukan dengan segera. Se-bab, sampai saat ini Komdis PSSI tidak kunjung melayangkan Surat Kepu-tusan (SK) sanksi ke Super Elja-julukan PSS Sleman.
Kata Pardji, SK tersebut memang sangat di-butuhkan untuk me-nyiapkan memori banding. Sebab, dari SK inilah PSS baru bisa meng-kaji dimana letak kesalahan pasal yang digunakan Komdis dalam menjatuhkan sanksi personal pada para “pelaku” sepak bola gajah. “Ya sampai sekarang SK-nya saja belum turun. Kami jelas masih menunggu sebab dari sanalah bahan untuk membuat me-mori banding,” terangnya.
Dalam pengajuan banding nantinya PSS juga akan meng-gunakan tim penasihat hukum. Kebetulan langkah serupa juga dilakukan PSIS. “Jasa tim pena-sihat hukum juga akan kami gunakan. Tentunya banding akan lebih lancar jika kami meng-gunakan jasa orang-orang yang memang memahami hukum sepak bola,” paparnya.
Beberapa pihak berspekulasi kalau tim penasihat hukum PSS bakal dijabat mantan anggota Komisi Banding (Komding) PSSI Triyandi Mulkan. Terlebih lagi dalam pertemuan stakehol-ders PSS beberapa waktu lalu, sosok yang akrab disapa Andi ini hadir. Namun Pardji enggan menjawab spekulasi tersebut.
Terpisah, Rumadi mengatakan PSS akan proaktif bertanya ke Komdis soal SK sanksi jika Hin-ca Pandjaitan dkk tidak kunjung menerbitkannya. Terlebih lagi waktu untuk banding cukup sempit yakni hanya dua minggu setelah keputusan dikeluarkan. “Jika SK tidak kunjung diterbit-kan kami yang akan aktif berta-nya. Sebab memori banding memang harus segera dibuat,” jelasnya.
Pengajuan banding ini juga mendapat komentar dari sese-puh sepak bola Sleman Sukidi Cakrasuwignya. Mantan pengu-rus PSSI Kabupaten Sleman tersebut berharap PT PSS benar-benar memperjuangkan nasib orang-orang yang terhukum terutama pemain. (nes/din/ong)