JOGJA – Upaya Dinas Ke-budayaan DIJ mengusung Kota Jogja sebagai warisan budaya dunia perlu penggodogan se-cara matang. Hal ini terungkap dalam seminar budaya yang digelar di Hotel Horison Ultima Riss Jogjakarta, Senin (24/11) dan Selasa kemarin (25/11).Seminar yang melibatkan be-berapa jajaran SKPD DIJ ini membahas lingkup sumbu filo-sofis. Seminar ini pun melibat-kan pembicara dari bapeda DIJ, PUP-ESDM DIJ, Dinas Peridagkop dan UKM DIJ, Biro Hukum Setda DIJ dan Dinas Sosial DIJ.
Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Drs Umar Priyono menilai me-wujudkan Kota Jogja sebagai City of Philosophy sangatlah penting. Ini mengacu pada pe-maknaan sumbu filosofis yang terbentang dari Panggung Krapyak hingga Keraton Jogjakarta. Juga dari Tugu Pal Putih menuju Ke-raton Jogjakarta.
“Konsep seperti ini yang akhir-nya menjadi embrio sebuah kota hanya ada di Jogjakarta. Sehingga perlu peran aktif kita untuk menjaga nilai ini. Itu juga yang membuat peran seluruh jajaran SKPD di DIJ menjadi sangat penting,” kata Umar (24/11).
Pencapaian ini lanjutnya tidak hanya melalui satu pintu SKPD saja. Kompleknya ruang antara Panggung Krapyak, Keraton Jogjakarta hingga Tugu Pal Putih menjadi alasannya. Baik dari bentuk tata ruang, permasalahan sosial hingga perekonomian di sekitarnya.
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah DIJ GBPH Yudhaningrat menilai upaya ini perlu terus dikawal. Grand Design City of Philosophy ini perlu per-siapan yang matang. Segala aspek menjadi pertimbangan dalam memantabkan Kota Jogja sebagai Warisan Budaya Dunia.
Gusti Yudha pun mengakui langkah ini tidak mudah. Si-negritas program dan kegiatan antar SKPD juga perlu dibahas. Jangan sampai kebijakan men-jadi tumpang tindih. Ini dapat menyebabkan kebijakan men-jadi tersendat bahkan tidak berjalan. (dwi/laz/ong)