Film Karya Pelajar Bekembang Pesat

JOGJA – Dunia film, khusus-nya di kalangan pelajar men-galami perkembangan pesat. Menjamurnya teknologi dan kemudahan informasi, mem-buat para pelajar semakin kreatif dalam berkarya. Ter-bukti dengan membludaknya peminat Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) 2014.
Direktur FFPJ Eni Puji Utami Keragaman mengungkapkan, ide, ekspresi dan kearifan pe-lajar terbilang tinggi. Tak seka-dar berkarya, juga mengemas dinamika kehidupan sosial sehari-hari dalam sebuah film. Alhasil sisi kritis dapat terasah melalui produksi film pelajar.”Atmosfernya mulai tumbuh karya-karya yang kritis, informa-tif, inspiratif, sekaligus artistik. Karya-karya yang lahir memiliki kepekaan terhadap masalah yang sedang menjadi perhatian public,” kata Eni (25/11).
Menurut Eni, tahun ini mer-upakan penyelenggaraan ke-lima. Sebuah konsep yang lebih matang pun disajikan FFPJ. “Tahun ini sebanyak162 film pendek karya pelajar nusan-tara telah diterima panitia FFPJ,” ungkapnya.Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, video musik men-jadi kategori baru dalam penyel-enggaraan FFPJ tahun ini. Karya-karya ini terdiri dari 94 karya kategori fiksi, 47 karya dari ka-tegori documenter, dan 21 karya dari kategori video musik.
“Lalu kami seleksi dan terpi-lihlah 25 nominasi dari seluruh kategori. Dengan perincian 10 nominasi fiksi, 9 nominasi do-kumenter, dan 6 nominasi video musik,” jelas Ine.
Ine menambahkan, FFPJ tahun ini tidak hanya menjadi milik Jogjakarta. Total karya yang diterima berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Ini mem-buktikan bahwa minat pelajar mendalami film sangat tinggi.
Eni mengakui, dari segi teknis, penyajian masih menjadi kele-mahan. Tapi menurutnya, ini tertutup oleh konsep ide yang dihadirkan. “Gagasan yang di-kemas melalui sinematografi ini segar dan kritis,” pujinya.
Beberapa karya ada yang ber-cerita secara satire. Mengangkat sisi lain dari kepahlawanan dan nasionalisme. Tapi melihat ba-gaimana tokoh utama memi-liki pemikiran yang salah. Menga-jak penonton untuk memaknai setiap adegan secara teliti.
“Tokoh utamanya adalah tokoh yang mengutamakan kepahlawa-nan dan nasionalisme, dan dia salah. Di situ menariknya dengan membuat anti tesisnya. Yang me-narik lagi adalah bagian endingnya,” ungkap Eni. (dwi/jko/ong)