SETIAKY/RADAR JOGJA
TERIMA KASIH GURUKU: Ribuan guru di Kota Jogja saat mengikuti upacara Hari Guru Nasional dan HUT ke-69 PGRI di Stadion Kridosono, Jogja, kemarin (25/11).

Ada yang sampai 46 Jam Seminggu

JOGJA – Pemerintah diminta memperhatikan kesejahteraan guru, bukan hanya dari sisi finan-sial saja. Kenyamanan dan beban kerja guru juga harus diperhatikan. Dari aturan minimal mengajar 24 jam seminggu, terdapat guru yang mengajar hingga 46 jam seminggu.
“Kalau 46 jam mengajar untuk masuk enam hari, berarti setiap harinya mengajar hingga delapan jam. Terus, kapan mereka menyiapkan hal lain? Sampai di rumah mereka juga masih harus bekerja dan keluarga ditinggalkan,” ujar Ketua PGRI Kota Jogja Sudarto usai upacara Peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-69 PGRI di Stadion Kridosono, Jogja, kemarin (25/11). Menurut dia, 24 jam mengajar dalam seminggu, sesuai syarat mendapatkan tunjangan profesi, sudah idea
Sudarto yang juga guru SMK 2 Jetis Jogja ini berharap pemerin-tah bisa mempertimbangkan beban guru. Dirinya khawatir jika terlalu disibukkan dengan kewajiban mengajar di sekolah, malah lupa untuk mengajar anaknya di rumah dan kegiatan sosial lainnya. Selain itu, guru juga tidak bisa mengembangkan kreativitasnya.
Terkait kesejahteraan secara finansial, menurut Sudarto, un-tuk guru PNS sudah mencu-kupi dengan adanya tunjangan profesi. Bahkan dari Pemkot Jogja juga mendapatkan tam-bahan penghasilan pegawai (TPP) Rp 170 ribu per bulan. Tetapi diakuinya untuk guru honorer, kesejahteraan masih kurang dan perlu perhatian khusus. “Kalau usulan kami, paling tidak untuk gaji guru honorer bisa 1,5 kali UMK,” terangnya.
Ketika ditanyakan tentang masih maraknya tawuran pe-lajar di Kota Jogja, Sudarto me-nolak jika hanya guru yang disalahkan. Interaksi guru dan siswa di sekolah hanya selama jam pelajaran saja. Menurut dia, pemerintah daerah, masyarakat dan orang tua juga punya andil besar dalam mengurangi kena-kalan remaja tersebut.
“Kami juga mengimbau supaya ada pemahaman tentang UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), karena juga banyak kasus bersumber karena keti-daktahuan dalam penggunaan media sosial,” katanya.
Sementara itu Wali Kota Jog-ja Haryadi Suyuti (HS) meng-harapkan guru seperti adigum Jawa merupakan sosok yang digugu dan ditiru, bisa men-jadi teladan bagi siswa. Guru disebutnya memiliki peranan penting dalam mewujudkan tatanan sosial yang harmonis di masyarakat.
“Guru, bersama pemerintah, dinas pendidikan, dan masyara-kat punya tanggung jawab ber-sama untuk menciptakan situ-asi pendidikan untuk peserta didik yang aman, tertib dan bersih,” ujarnya. (pra/laz/ong)