AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
LULUSAN TERBAIK: Dewi Fajar Nugraheni, wisudawan terbaik IST Akprind.

Mandiri Sejak SMA, Kuliah Nyambi Kerja

Lahir di keluarga pas-pasan, tak membuat Dewi Fajar Nugraheni menyerah. Bermodal nekad dan ingin terus belajar, Dewi ingin menjadi programer yang andal tanpa harus membebani orang tuanya.
AHMAD RIYADI, Jogja
SEKILAS, perawakan Dewi, panggilan Dewi Fajar Nugra-heni, terlihat kecil. Namun, se-mangat belajar dan kerjanya sangat tinggi. Saat duduk di bangku SMAN 1 Sleman, Dewi mengikuti berbagai kegiatan se-kolah dan remaja di kampung. Saat duduk di kelas XI, putri dari pasangan suami istri Kustanti-yanto dan Muji Rahayu ini mengik-uti pemilihan ketua OSIS hingga akhirnya terpilih sebagai ketua
“Saya mencalonkan diri karena diajukan teman-teman yang bia-sa kumpul aktif di OSIS,” kata Dewi kepada Radar Jogja kemarin. Sebagai ketua OSIS tak mem-buat Dewi gengsi. Sebelum be-rangkat sekolah, Dewi menyem-patkan membantu ibunya di dapur dan mencuci pakaiannya sendiri. Ke sekola juga tak minta diantar. Ia memilih mengguna-kan angkutan umum ketika be-rangkat dan pulang dari sekolah. “Saya sering pulang sore, ka-rena mengikuti kegiatan di se-kolah dan garap tugas dengan teman-teman,” terang perem-puan tiga bersaudara ini.
Setelah lulus SMA, Dewi tak ingin berhenti belajar. Bermodal nilai rapot rangking 3 di seko-lahnya, Dewi ingin mengadu nasib mengikuti berbagai tes penerimaan beasiswa. Kala itu, Dewi mengikuti tes seleksi bea-siswa oleh Yayasan IST Akprind dan Bidik Misi di UGM. Harapan Dewi tercapai. Ia mendapatkan nilai tinggi dan lolos sebagai calon mahasiswa penerima beasiswa dari Yayasan IST Akprind.
“Sebenarnya seleksi tes tulis Bidik Misi di UGM saya lolos, tinggal mengikuti tes berikutnya. Tetapi, karena Yayasan IST Ak-prind lebih dulu mengumumkan dan menyatakan saya lolos, se-hingga memilih di IST Akprind. Saya tidak mau meneruskan tes di UGM karena khawatir kalau tidak lolos,” kenangnya.
Di IST Akprind, Dewi memilih jurusan Teknologi Informasi (TI). Jurusan ini dipilih, karena ia me-lihat peluang usaha dan lapangan kerja di bidang TI masih terbuka lebar. Apalagi, saat masuk duduk di bangku SMA dirinya kerap mengikuti kegiatan dan kursus TI. “Saya ingin menjadi pro-gramer yang andal,” ungkapnya.
Setelah dinyatakan sebagai penerima beasiswa, Dewi masih berpikir tak ingin membebani kedua orang tuanya. Apalagi, penghasilan orang tuanya pas-pasan. Bapak bekerja sebagai buruh di toko kayu, sedangkan ibunya hanya membantu tetan-gga yang memiliki laudry. Agar tak membebani orang tua, Dewi berusaha cari pekerjaan. Dia bekerja di sebuah percetakan di Mlati. “Honornya lumayan, bisa untuk transport kuliah, beli buku, dan kebutuhan lain-nya,” ungkapnya.
Kerja keras Dewi membuahkan hasil. Pada wisuda kemarin (26/11), Dewi dinobatkan sebagai wisu-dawan terbaik. Dia meraih IPK 3,86. Skripsinya mengambil tema implementasi web servis untuk mewujudkan transparan peng-gunaan dana PNPM Mandiri.
Tidak berlebihan bila Dewi di-anggap sebagai mahasiswa seka-ligus pekerja keras. Upaya kerja kerasnya selama mengikuti per-kuliahan menuai hasil. Selain bekerja di perpustakaan, Dewi aktif diberbagai kegiatan kema-hasiswaan. Bahkan, ia pernah didaulat Jurusan Teknik Informa-tika IST Akprind untuk menjadi asisten instruktur laboratorium
“Saya tidak menyangka didaulat sebagai mahasiswa terbaik. Bagi saya, predikat ini berlebihan. Sebagai penerima beasiswa, sudah semestinya saya belajar dengan giat dan bekerja agar tidak membebani orang tua,” tuturnya. Kemarin, IST Akprind mewisuda sebanyak 143 mahasiswanya. Rinciannya, 108 orang mahasiswa program sarjana, dan 35 orang mahasiswa DIII. Di antara me-reka, sebanyak 19 orang tercatat sebagai mahasiswa dengan lulu-san berpredikat cumlaude. An-tara lain, Dewi Fajar Nugraheni, Widyaning Ustyannie dari Jurusan Statistik dengan IPK 3.86, Subhan Arif dari Jurusan Teknik Geologi dengan IPK 3.86, dan Fatikh Nur Khabibah dari Jurusan Statistik dengan IPK 3.86.
“Sebanyak 13 wisudawan yang menerima beasiswa dari IST Akprid, lulus dengan lulusan berpredikat cumlaude,” kata Rektor IST Akprind Sudarsono kemarin. (*/jko/ong)