DWI AGUS/RADAR JOGJA
TOMBO ATI: Pelawak Kirun menceritakan kisah dekatnya saat bersama Gus Dur dalam acara Tombo Ati di Omahe Petroek. Tujuh patung presiden RI menjadi latar belakang acara ini.

Inayah Sebut Humanis, Romo Sindu Anggap Titisan Semar

Mengenang sosok almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memerlukan waktu panjang. Tidak hanya kebijaksanaannya, rasa humornya pun dapat menjadi sebuah petuah yang menyegarkan. Hal inilah yang coba dibangkitkan kembali oleh sejumlah tokoh kerohanian, seniman dan budayawan.
DWI AGUS, Sleman
GERIMIS kecil memayungi langit Jogja-karta, Selasa malam (25/11). Suasana dingin ini membuat semua orang lebih nyaman be-rada di dalam rumah. Tapi, hal ini tidak ber-laku bagi sejumlah orang di Omah Petroek yang terletak di Karang Kletak, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Malam itu semuanya larut dalam suka cita dan kegembiraan.
Bertajuk Tombo Ati, saat itu sejumlah umat lintas agama, seniman dan budayawan kumpul. Peristiwa seni budaya ini merupa-kan wujud mengenang kepergian Gus Dur.
Tidak dengan duka cita, namun dikemas melalui doa, teatrikal, nyanyian, dan tarian.Salah seorang putri Gus Dur, Inayah Wu-landari Wahid, pun turut hadir dalam aca-ra ini. Perempuan yang kerap bertingkah nyentrik ini mengenang sosok Gus Dur se-bagai orang yang humanis. Meski agamanya kuat, dirinya tidak melupakan kodratnya sebagai manusia.
“Gus Dur selalu mengajarkan untuk men-jadi manusia yang humanis. Komunikasi kepada pencipta melalui ibadah itu penting. Tapi bersosialiasi dan berkomunikasi an-tarsesama manusia itu tidak kalah penting. Menghargai sebuah pluralisme dan menik-mati keindahan perbedaan,” kata Inayah.Dalam sebuah momen teatrikal, turut di-hadirkan pula sosok Gus Dur. Saat melihat ini, sontak Inayah melihatnya dengan se-dikit tertawa. Di matanya, Gus Dur adalah seorang ayah, imam, budayawan, agamis dan pemimpin yang sederhana
Dalam keseharian pria kelahi-ran Jombang 7 September 1940 itu, lebuh nyaman mengenakan celana pendek dan nyeker. Menu-rutnya, ciri khas ini sudah mele-kat pada Gus Dur sejak lama. Bahkan saat menjabat sebagai presiden ke-4 RI, Gus Dur kerap dandan sederhana.Satu hal di benak Inayah tentang pemikiran Gus Dur yang patut dijaga. Meski besar di kalangan agama yang kuat, Gus Dur ter-buka dalam hal pemikiran. Ber-beda dengan keadaan sekarang di mana agama menjadi payung untuk memaksa dan arogan.
Ini karena pola pikir Gus Dur yang sangat terbuka terhadap sebuah perbedaan. Akarnya adalah kecintaannya terhadap budaya yang tumbuh di Indo-nesia. Inayah mendapatkan ajaran bahwa budaya adalah pijakan kuat umat manusia.
“Gus Dur tidak ingin diingat sebagai presiden RI , tapi sosok yang humanis. Dengan budaya-lah dia bekerja menjadi sosok yang humanis. Beliau pun per-nah bercerita bahwa orang yang hobinya marah-marah, menurut penelitiannya, adalah lulusan sekolah eksak. Ini karena tidak kenal seni dan budaya yang me-nyebabkan jiwanya tidak ber-tumbuh dan berkembang,” kenang Inayah sambil tersenyum.
Pemilik Omah Petroek sekali-gus penggagas acara Dr. Gabriel Possenti Sindhunata SJ menilai Gus Dur merupakan panutan. Pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini mengibaratkan Gus Dur sebagai titisan Sabdo Palon Noyo Genggong.Sabdo Palon Noyo Genggong adalah seorang tokoh titisan Semar. Tokoh ini memiliki peran besar dalam mengawal tanah Jawa hingga akhir Majapahit. Bahkan hingga saat ini dipercaya akan kembali dan dapat memu-lihkan kebudayaan.
“Satu pemikiran yang patut kita contoh, jangan sampai agama meninggalkan kebu-dayaan tempat berpijak. Gus Dur adalah kiai yang membela ke-budayaan dan diversitas dengan mati-matian. Sebuah panutan tokoh budaya pluralis yang di-miliki negara ini,” katanya.
Sifat Gus Dur ini pun identik dengan Sabdo Palon Noyo Geng-gong sebagai pemomong budaya. Secara fisik tokoh ini digambar-kan bertubuh gemuk. Sifatnya yang humanis dan penuh humor juga melekat.Romo Sindhu pun mengenang almarhum tidak hanya tokoh, tapi juga warisan kebudayaan. Secara khusus Omah Petroek pun mendirikan sebuah langgar (tempat untuk salat). Diberi nama Tombo Ati, langgar ini didedikasikan mengenang per-jalanan Gus Dur.
Di depan langgar ini pun ber-diri sebuah patung dengan wa-jah Gus Dur. Patung dibuat dengan dua sayap menancap di tubuh. Di bagian tubuh, nampak berlubang dengan guratan hati dan tulisan bermakna.
“Adanya langgar ini untuk mengingatkan janganlah be-kerja dan bermain hingga lupa salat. Tapi juga jangan kehilangan sisi humanism kehidupan so-sial. Selama hidupnya Gus Dur telah memberikan banyak sira-man rohani bagi individu dan bangsa. Bahkan Gus Dur tidak hanya milik umat muslim, tapi semua agama dan kepercayaan,” kata Romo Sindhu.
Acara ini memang dikemas secara berbeda karena begitu plural dan kental suasana maje-muk. Diawali dengan syair-syair pemujaan oleh lintas agama dan kepercayaan di Indonesia. Se-muanya dilantunkan secara bersama-sama untuk mencipta-kan sebuah harmonisasi.Bagaimana suara adzan mam-pu terdengar apik saat nyanyian koor gereja menggema. Lalu doa lintas agama lainnya saling ber-sahutan satu sama lain. Suasana ini kuat sekali akan pentingnya pluralisme dan toleransi di tengah-tengahnya.
Turut hadir pelawak Kirun dan juga Marwoto Kawer. Sebagai sosok yang dekat dengan Gus Dur, Kirun memiliki banyak ki-sah. Termasuk bagaimana mantan ketua umum PBNU itu meng-hargai dan cinta terhadap budaya Indonesia.
Kirun pernah bertanya tentang adanya pendapat bahwa wayang, gamelan dan seni budaya itu haram dalam Islam. Dengan gaya humor, Gus Dur mampu men-jawab semua itu. Menurutnya, saat Islam masuk ke Indonesia, perantaranya melalui kearifan lokal seni budaya.
‘Ya jelas haram, emang wayang sama gamelannya mau dimakan. Jawaban ini tetap terngiang, hu-mor tapi dalam. Beliau mengi-sahkan bagaimana Wali Songo syiar Islam dalam bentuk seni budaya. Harusnya kita meng-ingat ini, bukan gembor-gembor bahwa Islam itu harus seperti di Arab,” kenang Kirun.
Kirun mengenang bahwa way-ang itu wajib ditonton dan di-maknai falsafahnya. Lalu tentang idealisme salah satu organisasi massa yang terlalu ekstrem juga pernah disampaikan. Bagai-mana ketika bendera Merah Putih berkibar tapi tidak mau hormat.
“Jawab Gus Dur, orang yang punya pendapat itu benar secara individual, tapi bagusnya jangan hidup di Indonesia. Kalau masih makan dan hidup di Indonesia, maka manutlah sama Indonesia. Kalau tidak setuju dengan Merah Putih, tapi masih hidup di sini opo ra ingak ingik dan isin,” kenangnya lagi. (*/laz/ong)