AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
SARANKAN MAKAN IKAN: Menkes Nila Djuwita Moeloek saat mengunjungi pameran dalam rangakian temu ilmiah internasional ahli gizi di Rich Hotel Jogja Jalan Magelang, kemarin.
JOGJA – Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita Moeloek mengatakan, saat ini pemerintah tengah giat melakukan pem-berantasan stunting (terhambatnya per-tumbuhan balita). Sebab, angka stunting masih tinggi, mencapai 37,2 persen dari seluruh balita di Indonesia.˜ Sepu-luh tahun terakhir, jumlahnya pende-rita stunting mencapai 8,8 juta jiwa.
“Ini beban bagi Indonesia dan kita semua sebagai warga negara Indone-sia,” kata Nila dalam sambutan temu ilmiah internasional ahli gizi di Rich Hotel Jogja Jalan Magelang, kemarin.
Ada berbagai cara untuk memerangi stunting. Salah satunya dengan giat meng-konsumsi ikan laut. Karena itu, Nila mengajak masyarakat Indonesia, teru-tama kalangan ibu-ibu agar gemar ma-kan ikan laut. Sebab, ikan laut mengandung berbagai gizi, nutrisi, dan protein. “70 persen kekayaan laut Indonesia adalah ikan. Namun, konsumsi ikan di Indonesia hanya 2,4 persen. Sisanya tidak tahu kemana,” ujar Nila.
Selain makan ikan, Nila mengajak masyarakat gemar makan sayuran dan makanan asli produksi perta-nian Indonesia. Menurutnya, Indo-nesia tak perlu impor pangan. Sebab, lahan pertanian di tanah air cukup luas. Jika masyarakat tak memiliki ladang, dapat memanfaatkan peka-rangan untuk ditanami sayuran. “Tanam sayuran sangat mudah. Kalau tidak punya pekarangan, bisa meng-gunakan media pot untuk tanam sayuran,” terangnya.
Dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, ibu-ibu telah menyelamatkan ge-nerasi bangsa Indonesia. Generasi yang lahir akan menjadi sosok yang produktif dan berkualitas, bukan generasi yang me-miliki keterbatasan tumbuh kembang fisik dan mental. Sebaliknya, bila stunting masih te-rus ada, maka bonus demografi pada 2020-2030 tak ada artinya. “Jangan sampai ada stunting. Apabila Indo-nesia masih memiliki masalah stun-ting, akan berdapak pada aspek kog-nitif sang anak menjadi turun ter-masuk berat badan bayi rendah. Ini sangat berbahaya dan perlu diadvo-kasi oleh semua pihak, pemerintah dan masyarakat,” paparnya.
Menurut Nilaa, masalah shunting tidak lepas maraknya pernikahan dini. Orang tua yang menikah di usia dini biasanya tidak memerdulikan gizi sang anak atau tidak mampu memberikan gizi yang memadai, ka-rena masalah ekonomi.˜ “Angka ke-matian juga masih tinggi. Ini terjadi karena banyak ibu yang menikah usia dini,” jelasnya. (mar/jko/ong)