DWI AGUS/RADAR JOGJA
KONTEMPORER: JIPA Fest 2014 menjadi wahana para seniman untuk saling mempelajari satu sama lain.
SLEMAN – Jogja International Perfoming Arts Festival (JIPA Fest) 2014 resmi dibuka Rabu malam (26/11). Festival seni pertunjukan internasional ini diadakan di PPPPTK Seni Budaya Sleman. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Drs. Umar Priyono, MPd menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini.Umar menuturkan konsep seni kontemporer yang diusung mampu menjadi sebuah penanda budaya. Ini karena kontemporer berkembang dengan acuan budaya bangsa. Acara ini pun dapat menjadi sebuah ruang dialog berkesenian karena mendatangkan seniman lintas negara.
“Kegiatan ini sebagai wahana bagi para seniman yang hadir untuk saling mengisi dan saling mem-pelajari satu sama lain. Dapat melihat perkembangan seni budaya melalui kontemporer yang diusung masing-masing kontingen,” kata Umar.
Umar mengemukakan kegiatan ini merupakan kesempatan yang baik untuk saling mengasah dan mengasuh. Dengan melihat pembelajaran dari kelompok lain, maka kelemahan akan ter-benahi. Setidaknya akan semakin meneguhkan posisi dan marketing yang baik bagi Jogjakarta.
“Khususnya untuk daerah Jogjakarta utara. Ini dapat memberi pandangan baru bagi seniman-seniman yang hadir. Bagi saya ini menjadi wacana yang baik untuk mempelajari seni budaya secara luas,” kata Umar.Direktur JIPA Fest Bambang Paningron menam-bahkan, kontemporer merupakan ruang khusus. Dinamika setiap bangsa turut berpengaruh pada budaya setempat. Budaya tradisi mau tak mau pun harus menyentuh ranah ini untuk tetap bertahan.
Namun dalam konteks ini bukan menghilang-kan seni dan budaya tradisi. Akar seni dan budaya ini tersentuh dengan pemikiran baru para seni-man. Persinggungan inilah yang melahirkan pemikiran karya kontemporer.
“Melalui ajang ini kita bisa melihat sejauh mana seni dan budaya suatu bangsa berkembang. Akan banyak diskusi yang tercipta dalam mencermati setiap karya seniman. Sebuah seni budaya memang wajib mengikuti dinamika atau hilang,” kata Bambang (28/11).
Ajang ini berlangsung hingga 30 November besok yang melibatkan ratusan seniman lintas negara. Seni pertunjukan internasional ini me-nampilkan seni tari dan juga musik kontemporer. Ragam seni kontemporer juga dilengkapi dialog penulisan kritik seni.
Pengampu penulisan kritik seni Sal Murgiyan-to menilai, penulisan kritik seni masih jarang. Seniman di Indonesia justru seakan termanjakan dengan adanya hal ini. Sehingga dalam kesem-patan ini, sebuah workshop khusus dibuka untuk pemerhati dan penulis seni budaya.
“Seni budaya itu merupakan akar kekuatan bagi Indonesia. Tapi jika tidak ada bentuk kritik maka semuanya akan termanjakan dan tidak berkembang. Inilah yang bisa membunuh daya kreativitas seniman atas minimnya penulisan kritik secara publik,” katanya. (dwi/laz/ong)