SETIAKY/RADAR JOGJA
BUTUH DUKUNGAN SEMUA: Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Nguyahan, Ngobaran, Saptosari, Gunungkidul menerima bantuan 275 batang pohon cemara udang untuk menahan abrasi pantai selatan. Assekda Perekonomian dan Pembangunan Setda DIJ Didik Purwadi menanam pohon langka sebagai bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan.
Kepala BLH DIJ Joko Wuryantoro mengatakan, berangkat dari upaya konservasi lingkungan, maka peningkatan luas lahan tutupan vegetasi dan menambah ruang terbuka hijau menjadi kunci utama perbaikan mutu lingkungan
“DISAHKANNYA UU No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ menjadi momentum meningkat-kan perbaikan lingkungan secara tepat,” imbuhnya.Kasubid Pengendalian Kerusakan BLH DIJ Indro Waluyo menambahkan, Wonodeso juga dapat di-maknai sebagai kegiatan pendayagunaan lahan desa dengan menambah jumlah tanaman atau vegetasi secara permanen. Tujuannya demi me-ningkatkan ruang bebas guna mendukung upaya konservasi lingkungan
“Kegiatan Wonodeso diarahkan pada upaya membangun sinergi antara pemerintah, pemerintah desa, dan pem-berdayaan masyarakat desa,” terang Indro.
Melukis-BLH-DIJ-di-Hutan-Bunder,-Gunungkidul
SETIAKY/RADAR JOGJA
KENALKAN SEJAK DINI: Kampanye cinta lingkungan perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak mereka usia belia. Salah satunya melalui media melukis pernah digelar BLH DIJ di Hutan Bunder, Gunungkidul, belum lama ini.
Adapun sasaran dari kegiatan itu adalah termanfaatkannya potensi lahan desa. Lahan itu meliputi tanah kas desa, wedi kengser, tanah sultan, tanah Pakualaman, atau lahan sejenis lain yang dikuasai pemerintah desa. “Prinsipnya tanah yang mengang-gur, bero atau tidak produktif,” paparnya.
Indro menjelaskan, pola tanam Wonodeso menganut pola 60 persen ditentukan BLH DIJ dan 40 persen be-rasal dari usulan pemerintah desa. Hingga dua tahun ini program Wonodeso telah dijalankan di sebelas desa. Yakni Desa Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul, Desa Po-torono, Banguntapan, Bantul, Desa Pendowoharjo, Sewon Bantul, dan Desa Tamantirto, Kasihan, Bantul.Selanjutnya, Desa Balaicatur, Gamping, Sleman, Desa Sidomoyo, Godean, Sleman, Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman, Desa Caturtunggal, Depok, Sleman, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Desa Sen-dangtirto, Berbah, Sleman, serta Desa Kaliagung, Sentolo, Kulonprogo.
Tentang pengelolaan Wonodeso, Indro menjelaskan, dijalankan oleh pemerintah desa. Namun demikian, Pemda DIJ tetap memberikan peluang kepada pe-merintah desa mengadakan kerja sama dengan kelom-pok masyarakat untuk pengelolaannya dengan be-berapa perjanjian kesepakatan. (kus/amd/ong)