BLH FOR RADAR JOGJA
BERMANFAAT: Masyarakat diharapkan mulai sadar membuat SPAH secara swadaya.
Kabid Pengendalian Kerusakan dan Konservasi Lingkungan BLH DIJ Bambang Wahyu Indria menambahkan, saat ini di tiga daerah, Kota Jogja, Sleman dan Bantul, pembuatan SPAH merupakan bagian dari izin mendirikan bangun bangunan (IMBB).
BAGI mereka yang mengajukan IMBB atau persya-ratan teknis lain untuk membangun gedung, rumah, hotel, dan fasilitas lainnya harus juga membuat SPAH.Selama ini penempatan SPAH berada di rumah-rumah yang memiliki halaman sempit dan tertutup dengan perkerasan akrena disemen atau dikonblok.Lalu, daerah padat hunian, daerah konservasi air dan daerah yang memiliki tutupan perkerasan tinggi. “Sumur resapan harus ditempatkan pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil,” imbuh pria asal Cawas, Klaten ini. Adapun bila ditempatkan di jalan agar diperhitung-kan kekuatan SPAH terhadap fungsi jalan. SPAH juga tidak boleh berdekatan dengan resapan air kotor (sep-tic tank) atau timbunan sampah.
“Minimal berjarak 5 meter diukur dari tepi, dan berjarak minimal 1 meter dari fondasi bangunan. Kedalamanya tidak melebihi kedalaman muka air tanah yang diukur pada musim hujan,” terangnya.
Lebih jauh dikatakan, mengutip keterangan pasal 1 angka 9 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 2008, konservasi air tanah dimaksudkan sebagai upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi air tanah agar senantiasa tersedia dalam kualitas dan kuantitas yang memadai. Terutama untuk kebutuhan makluk hidup baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang.
Siklus hidrologi menunjukka air hujan yang jatuh ke bumi merupakan sumber air yang dapat digunakan untuk keperluan mahluk hidup.Secara alamiah air hujan yang jatuh ke bumi seba-gian akan masuk ke dalam tanah dan sebagian lagi akan menjadi aliran permukaan, masuk ke sungai dan akhirnya masuk ke laut.Bila kondisi wilayah tangkapan air masih memadai, maka jumlah air hujan yang masuk ke dalam tanah akan mencukupi sebagai persediaan air tanah.
“Saat ini kondisi daerah tangkapan air khususnya di wilayah DIY semakin kritis, seiring dengan bertam-bahnya jumlah penduduk yang mengakibatkan makin berkurangnya lahan terbuka,” beber Bambang.
Dengan demikian, persentase air hujan yang masuk ke dalam tanah semakin berkurang. Di lain pihak pemakaian air tanah semakin hari semakin mening-kat. Dengan berkembangnya teknologi, maka eksplo-rasi air tanah untuk memenuhi kebutuhan manusia juga semakin besar.
“Akhir-akhir ini banyak budidaya pertanian yang tidak lagi menggunakan air permukaan (irigasi) me-lainkan menggunakan air tanah,” sesalnya.
Kondisi tersebut semakin meningkatkan jumlah air tanah yang dieksplorasi. Bila dibiarkan secara terus menerus, akan mengakibatkan terjadinya defi-sit air tanah. Salah satu pertanda defisit air tanah adalah makin dalamnya muka air tanah.”Hujan berkurang sedikit saja beberapa waktu ma-ka air tanah cepat sekali turun,” lanjut birokrat yang tinggal di Pogung, Sinduadi, Mlati, Sleman ini.Di samping itu, defisit air tanah juga dapat meny-ebabkan intrusi air laut semakin dalam ke arah dara-tan
Terkait itu, , maka perlu upaya konservasi air tanah sebagai upaya untuk menjaga ketersediaan air tanah.Atas dasar prinsip itu, maka curah hujan yang ber-lebihan pada musim hujan tidak dibiarkan mengalir percuma ke laut, tapi ditampung dalam suatu wadah yang memungkinkan air kembali meresap ke dalam tanah (groundwater recharge).
Dengan muka air tanah yang tetap terjaga atau bahkan menjadi lebih dangkal, air tanah tersebut dapat dimanfaatkan pada saat terjadi kekurangan air di musim kemarau dengan jalan memompanya kem-bali ditempat yang lain ke permukaan.Bila SPAH itu berjalan baik, maka akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya, menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah. Lalu menjaga kese-timbangan hidrologi air tanah sehingga dapat men-cegah intrusi air laut. Selanjutnya, mereduksi dimen-si jaringan drainase dapat sampai nol jika diperlukan. Menurunkan konsentrasi pencemaran air tanah, dan mempertahankan tinggi muka air tanah.
“SPAH juga mencegah banjir dan terjadinya penu-runan tanah sekaligus melestarikan teknologi tradi-sional,” urainya.
Bambang mengakui, diperlukan kesadaran bersama semua pemangku kepentingan dalam rangka men-dukung upaya konservasi air tanah melalui SPAH.Masyarakat baik secara individual maupun komunal, diharapkan mulai sadar membuat SPAH secara swa-daya. Pemerintah diharapkan dapat membuat dan menerapkan regulasi yang mengintegrasikan SPAH dalam mekanisme perizinan.
Pihak swasta terutama yang memanfatkan air tanah dengan volume yang besar, diharapkan dapat berpar-tisipasi dalam upaya konservasi air tanah melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.”Kalau bukan kita siapa lagi. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita dapat melaksanakan konservasi air tanah. Jangan tunggu sampai kita harus mem-bayar mahal untuk memperoleh air,” ajak Bambang. (kus/amd/ong)