ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
BENCANA LAGI: Empat rumah di perbukitan Menoreh,Desa Ngargoretno, Salaman diterjang tanah longsor. Terlihat para relawan dan masyarakat setempat membersihkan rumah korban.
MUNGKID – Tanah longsor kembali terjang empat rumah di perbukitan Menoreh, Desa Ngargoretno, Salaman. Bahkan, karena ke-jadian tersebut, dua rumah di antaranya temboknya ambrol terhempas material tanah. Tanah longsor menerjang kawasan ter-sebut, setelah sebelumnya hujan meng-guyur selama sehari. Rumah yang men-jadi korban bencana tahunan tersebut adalah milik Sukri Al Tamami, 52; Suro Sarji, dan Imtihan, 23, warga Dusun Tega-lombo. Baik rumah Sukri dan Imtihan, tembok bambu rumahnya roboh.
Kejadian serupa terjadi di Dusun Wono-kerto. Rumah milik Buthuk tertimpa mate-rial tanah longsor hingga mengakibatkan dinding rumahnya dari batu-bata menga-lami ambrol.Peristiwa bermula saat hujan yang meng-guyur perbukitan Menoreh, dari Sabtu (29/11) pukul 11.00 hingga Minggu (30/11)
Tanah yang labil tak kuasa me-nahan beban air, sehingga tebing di sekitar rumah warga longsor. “Setelah diguyur hujan dari Sabtu siang, bencana tanah long-sor terjadi pagi sekitar pukul 04.00. Tiba-tiba tebing di samping rumah longsor,” ungkap Sukri, salah satu korban, kemarin (30/11)
Ia mengaku, sebelum terjadi bencana tanah longsor, semalaman tidak tidur. Ini menjadi kebiasaan saat hujan turun di wilayah Per-bukitan Menoreh untuk menganti-sipasi jika terjadi bencana.
“Benar, tanah longsor terjadi sekitar pukul 04.00 ketika kelu-arga sedang tertidur,” jelasnya.Tebing dengan tinggi sekitar dua meter, lebar 5 meter, dan panjang 30 meter menerjang dinding rumahnya dan rumah Imtihan, anaknya. Jarak kedua rumah berdekatan. Rumah Sukri dihuni lima orang. Sementara rumah Imtihan dihuni tiga ang-gota keluarganya. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. “Sebelumnnya, saya mengira tadi pagi (kemarin) terjadi hujan es. Ternyata merupakan suara dari dinding bambu yang patah,” imbuh Imtihan.
Warga berharap, pemerintah cepat turun tangan membantu mering-ankan beban korban bencana tanah longsor. Imiyanti, 33, korban ber-harap, dinding rumahnya yang jebol bisa dibantu biaya untuk membangun. Mengingat, bangunan rumahnya baru dibangun tahun ini dan tergo-long bangunan baru. “Saya berharap pemerintah mem-bantu biaya perbaikan rumah,” ungkap Istri dari Buthuk ini.Rumah Buthuk terkena mate-rial dari tebing 10 meter. Keleba-ran tanah longsor sekitar 10 me-ter itu membawa material tanah dan mengakibatkan temboknya jebol. Selain jebolnya tembok ruang tamu, beberapa peralatan rumah tangga ikut rusak.
Kades Ngargoretno Dodik Su-seno menjelaskan, total rumah yang terkena tanah longsor ada empat rumah. Dari empat tersebut, tiga rumah tinggal di daerah rawan bencana. Karenanya, me-reka diminta mengamankan barang-barang yang dimiliki. “Sewaktu-waktu terjadi ben-cana siap mengungsi. Meng-ingat, volume tanah longsor dan potensi terjadi bencana kem-bali masih besar. Terutama saat turun hujan,” kataya.
Ia mengaku memberikan ban-tuan sembako untuk warga yang kerja bakti. Warga bersama-sama membersihkan material tanah longsor dan membereskan dinding rumah yang roboh. “Terkait kerugian yang diala-mi warga, akan kami ajukan bantuan ke pemerintah,” kata Dodik. (ady/hes/ong)