Lendah Jadi Lokasi SRS dari 128 Kecamatan se-Indonesia

KULONPROGO-Berdasarkan hasil eva-luasi pelaksanaan Sistem Registrasi Sampel (SRS) di Kecamatan Lendah setahun terakhir, jumlah kematian di rumah ternyata men-duduki posisi tertinggi dibanding kematian di rumah sakit. Hal itu terungkap dalam rapat evaluasi SRS di Pendopo Kecamatan Lendah yang dihadiri Kepala Puskesmas Lendah II dr Ch Riyanto dan Kepala Puskesmas Lendah I drg Hendro Suwarno. Pada periode Oktober 2013 hingga Oktober 2014, persentase kematian di rumah mencapai 68,42 persen. Sementara kematian di Rumah Sakit hanya 29,24 persen.
“Sedang-kan jika dilihat dari jenis kelamin kematian warga, perempuan menduduki posisi 58,76 persen dan laki-laki 41,24% persen. Kema-tian tertinggi senility (ketuaan, Red), disusul CVD (Stroke), infeksi, kecelakaan, CA (kanker), dan penyebab lainnya,” terang Taviv Supriadi ST, Penanggung Jawab Operasional (PJO) SRS Kabupaten Kulonprogo.
SRS ini dilaksanakan lantaran statistik vital di Indonesia belum berjalan dengan baik.Sistem pencatatan yang dilakukan oleh ins-tansi terkait termasuk pemerintah desa bersifat pasif atas dasar laporan dari masya-rakat yang sekaligus untuk mengurus admi-nistrasi kependudukan, bila penduduk tidak melapor maka tidak dicatat. “SRS adalah suatu cara mendapatkan angka statistik vital di suatu negara dengan melakukan sampel dalam sistem registrasi. SRS dilaku-kan jika angka vital statistik di suatu negara belum dapat tersedia dari sistem pencatatan sipil disebabkan ketidaklengkapan penca-tatan sipil di negara tersebut,” jelasnya.
Kecamatan Lendah merupakan salah satu kecamatan di DIJ dari dua kecamatan bersama Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul yang ditunjuk sebagai sampel, dari 128 kecamatan di seluruh Indonesia.
Camat Lendah Sumiran selaku Penanggung Jawab Lapangan (PJL) menyatakan, pihaknya telah menginstruksikan desa untuk meng-ingatkan kembali semua kepala dukuh agar memberikan informasi bila terjadi kema-tian di wilayahnya. Kemudian harus dicatat oleh desa kendati keluarga yang bersang-kutan belum lapor ke desa. “Saya berharap agar semua kasus kematian tercatat dan tidak terjadi perbedaan data yang ada di desa dengan yang dilaporkan lewat kegiatan SRS,” harapnya. (tom/din/ong)