ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
MEMUASKAN : Panen raya jagung organik di Bulak Karang, Wijirejo, Pandak, Kamis (4/12) mendapatkan hasil yang maksimal. Tanaman jagung ini menggunakan pupuk olahan dari limbah pasar.

Per Hektare Hasilkan16 Ton Jagung Hibrida

PANDAK – Eksperimen yang dilaku-kan Badan Lingkungan Hidup (BLH) menuai hasil memuaskan. Hasil panen tanaman jagung yang memanfaatkan pupuk kompos organik di Dusun Ka-rang, Wijirejo, Pandak cukup me-limpah. “Hasil panen jagung hibrida per hektare 16 ton,” terang Ketua Gapoktan Mitra Usaha Tani Wijirejo Sumarjono usai panen raya jagung organik di Bulak Karang, Wijirejo, Pandak, Kamis (4/12).
Menariknya lagi, semakin lama lahan menggunakan pupuk kompos organik ini akan semakin subur. Tentunya produktifitas tanaman pun akan se makin bertambah pula. “Ya pasti berbeda dengan pupuk-pupuk kimia,” ujarnya.Tetapi, dalam praktiknya para petani di wilayah ini memang juga masih tetap menggunakan pupuk kimia. Sumar jono mencontohkan, untuk satu kuintal pupuk kompos organik dikombinasikan dengan setengah kuintal pupuk kimia. “Sebelum pakai pupuk kompos ini persatu hektare panenan kisaran 9,5 ton,” sebutnya.
Sekretaris BLH Bantul Gatot Suteja menguraikan, pupuk kompos yang dimanfaatkan Gapoktan Mitra Usaha Tani Wijirejo berasal dari sampah. Sampah seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan daun-daunan busuk ini diperoleh dari empat pasar. Yaitu Pasar Niten, Pasar Piyungan, Pasar Imogiri, dan Pasar Jejeran. “Pasar Imogiri dan Pasar Jejeran per-bulan menyumbang sampah sekitar 4 ton,” jelasnya.
Kemudian Pasar Niten dan Pasar Piyungan menyumbang sampah sekitar 1 ton setiap bulan. Menurutnya, empat pasar ini sengaja dijadikan pilot project pengolahan sampah menjadi pupuk kompos organik. Itu karena empat pasar ini menjadi pemasok sampah ter banyak. “Kalau ini berhasil akan kami kembang-kan ke pasar-pasar lainnya,” bebernya. (zam/din/ong)