HERi SUSANTO/RADAR JOGJA

NGURI-URI TRADISI: Penampilan peserta parade sholawat di kompleks Monumen SO 1 Maret, kemarin. Sholawan didorong sebagai agenda tahunan, untuk nguri-nguri tradisi masyarakat Islam Jawa. Sebab sholawatan merupakan kesenian tradisional yang dulu digunakan Walisongo dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa.

JOGJA – Status istimewa bagi Jog-jakarta, tidak secara otomatis ber-dampak mulus terhadap agenda-agenda seni budaya. Tak semua agenda seni budaya masyarakat mendapatkan ruang berekspresi. Salah satunya mengenai sholawatan. Seni tradisi ini masih belum mendapatkan dukungan serius. Padahal, sholawatan merupakan tradisi masyarakat Islam Jawa. Sama seperti dengan kebera-daan keraton.
Ketua Kelompok Sholawatan Kanjeng anom M. Akhid Subianto mengatakan, seharusnya ada even besar tiap tahun. Seperti parade sho-lawatan yang digagas Kanjenganom, Selasa (16/12) malam di Kompleks Monumen SO 1 Maret. “Harus ada tindakan untuk uri-uri warisan budaya leluhur,” katanya.
Akhid mengakui, tanpa peran aktif pemerintah, sulit kesenian tradisio-nal yang dulu digunakan Walisongo dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa ini bisa lestari. “Harapannya, parade sholawat mendapat dukungan agar bisa rutin setiap tahun sekali,” pintanya.
Pengelola kelompok sholawat di Nitikan, Kecamatan Umbulharjo ini menerangkan, seni sholawat meru-pakan budaya yang harus mendapat perhatian. Termasuk alat musik yang dimainkan. “Kesenian ini merupakan perpaduan antara kesenian Arab dan Jawa, alat musik khas Jawa menjadi pengiringnya, seperti gamelan, ken-dang dan lainnya,” paparnya.
Pemerhati Seni Dwi Suyono meng-ungkapkan, seni sholawaat adalah seni tradisi yang bersifat religius. “Da-lam sejarahnya, itu menjadi media para Walisongo dalam mengembang-kan ajaran Islam di Pulau Jawa,” katanya.
Menurut dia, kesenian ini sudah menjadi aset budaya Jogja. Sebaiknya pemerintah lebih banyak memberi-kan ruang bagi berkembangnya ke-senian tradisional religius. “Kenapa kesenian ini menjadi aset budaya Jogja, karena Keraton Jogja, awalnya juga dari Kerajaan Mataram Islam,” kata Alumnus ISI ini.
Dwi mengungkapkan, kesenian ini dari aspek filosofi juga memberikan edukasi karakter, keimanan dan ke-taqwaan. “Memang sebaiknya pe-merintah memberi perhatian lebih terhadap seni ini, sebagai apresiasi kepada pelaku seni tradisional seka-ligus melestarikan budaya nenek moyang,” tandasnya.Sementara itu, delapan peserta dalam parade sholatan ini antara lain kelom-pok sholawat Kalimasada dari Gunung-kidul, Mudho Palupi Sedyo Rukun (Bantul), Kyai Gandrung (Sleman), Kyai Kandil (Bantul), Krumpyung Al Fatah (Kulonprogo), Badui (Sleman) dan lainnya. Acara ini disaksikan seki-tar 600 orang. (eri/jko/ong)