Apa Iya Masyarakat DIJ Penuh Kebencian dan Kekerasan?

JOGJA – Rilis dari Wachid Institute yang menempatkan DIJ di peringkat kedua dalam hal intoleransi dan dis-kriminasi, tak sepenuhnya membuat Gubernur DIJ Hamengku Buwono X percaya. Ia tidak yakin intoleransi ter-sebut karakter warga DIJ.Raja Keraton Jogja ini mengung-kapkan, budaya warga Jogjakarta bukanlah kekerasan. Artinya, terjadi-nya kekerasan di DIJ bisa saja meli-batkan orang luar DIJ. “Budaya ke-kerasan yang timbul atau intoleran-si, mungkin itu bisa terjadi. Tapi se-betulnya apakah itu betul masyarakat kita (DIJ) selalu berbuat kekerasan?” tandas HB X kemarin.
Berdasarkan hasil penelitian Wachid Institute, DIJ menempati peringkat kedua untuk kasus intoleransi dan diskrimnasi. Peringkat tertinggi ka-sus itu ditempati Jawa Barat dengan 55 kasus.Di DIJ, kasus intoleransi dan diskri-minasi yang tercatat Wachid Institute berjumlah 22 kasus. Tertinggi kedua Sumatera Utara 18 kasus, DKI Jakarta 14 kasus, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan masing-masing 10 kasus.Jumlah yang tinggi ini ternyata tak membuat HB X percaya. Terlebih, Jogjakarta terkenal dengan budaya-nya yang terbuka. ” Apakah iya, ma-syarakat Jogja itu penuh kebencian dengan sesama lain agama, lain suku?” tanya HB X.
Meski tak sepenuhnya yakin, ia meng-ingatkan warganya untuk terus men-junjung tinggi pluralisme dan men-ghargai perbedaan. Ia memerkirakan penyebab dari intoleransi ini karena rendahnya menghargai privasi dan keyakinan orang lain.”Harus dilakukan, jangan merasa menang sendiri, jangan merasa benar sendiri. Hargai keyakinan dan pri-vasi orang lain,” pesannya.
Ia menambahkan, dalam kehidupan bermasyarakat mendapati perbedaan adalah hal yang wajar. Indonesia di-bangun juga berdasarkan perbedaan-perbedaaan tersebut.”Bagaimana pun kita dibangun dari berbeda-beda men-jadi satu. Jangan bicara aku, tapi bi-cara kita,” imbuhnya.Atas adanya rilis itu, HB X memas-tikan, pihaknya tak akan mengum-pulkan kelompok masyarakat di DIJ untuk duduk satu meja. Ia menegas-kan, kesadaran untuk menghargai orang lain akan timbul. “Tidak usah. Itu harus dilandasi atas dasar kesa-daran. Itu (prilaku intolensi) muncul karena sisi keakuan dari arogansi yang timbul, karena mau menang sendiri,” jelasnya.
Wakil Ketua Komisi A DPRD DIJ Sukarman sependapat dengan gubernur. Ia mengamati, kasus-kasus kekerasan yang terjadi DIJ lebih banyak dilaku-kan masyarakat pendatang. Bukan warga asli DIJ. “Jangan dipukul me-rata itu ulah warga DIJ,” ujarnya.
Sebab, dari pengamatan langsung, Sukarman melihat, gotong-royong warga di DIJ merupakan yang terbaik. Artinya, toleransi antarumat beragama maupun antarsuku juga terjalin dengan baik. “Bencana Merapi dan gempa bumi sudah memperlihatkan jika warga DIJ memiliki sifat gotong-royong yang baik,” kata mantan kades di Pan-jatan, Kulonprogo, ini. (eri/laz/ong)