ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
LOKASI FAVORIT: Kesibukan petugas mengatur lalu lintas dan penarikan retribusi di sekitar tempat pemungutan retribusi (TPR) Pantai Parangtritis kemarin (1/1). Puluhan ribu wisatawan memadati pantai ini saat menyambut tahun baru 2015.

Jalan Parangtritis Macet Parah Awal Tahun Baru

KRETEK – Membeludaknya pengunjung Pantai Parangtritis menjelang dan pada awal tahun baru menyebabkan para petugas di tempat pemungutan retribusi (TPR) kewalahan. Petugas TPR Pantai Parangtritis, polres Bantul, maupun Dinas Perhubungan ke-limpungan mengatur ratusan kendaraan, baik roda dua dan roda empat yang mengular di sepanjang Jalan Parangtritis. Akibatnya, petugas TPR secara berkala menggratiskan pengun-jung yang akan masuk. “Keputusan seperti ini terpaksa dilakukan agar antrean tidak semakin panjang,” terang Koordinator TPR Pantai Parangtritis Heri Maryanto, kemarin (1/1).
Setidaknya, keputusan menggratiskan para pengunjung ini telah dilakukan berulang kali sejak Rabu (31/12) sore lalu. Jika diakumulasi total penggratisan bagi para pengunjung selama dua hari terakhir mencapai tiga jam.”Terkadang dibuka gratis sampai 1 jam. Tadi siang dibuka gratis setiap 10 menit sekali,” ujarnya.
Heri menyadari penggratisan para pengunjung yang akan masuk ini menyebabkan kerugian. Diperkirakan, penggratisan selama satu jam berdampak pada hilangnya pendapatan asli daerah (PAD) sekitar Rp 5 juta. Meski demikian, keputusan tersebut terpaksa ditempuh agar kemace-tan tak semakin parah.Keputusan ini diambil juga berdasar hasil koordinasi dengan petugas polres Bantul.”Yang jelas ini problem tahunan,” jelasnya.
Macetnya arus lalu lintas menuju Pantai Parangtritis karena tidak maksimalnya rekayasa lalu lintas. Menurutnya, kendaraan dari arah Pantai Parangtritis seharusnya diarahkan menuju ke jalan Bantul melalui simpang tiga Ngangkruk, Kretek. Tetapi, pada praktiknya kendaraan yang menuju arah utara dibiarkan melalui Jalan Parangtritis. “Lalu kendaraan yang mau ke Parangtritis seharusnya diarahkan melalui jalur alternatif Pundong. Di sana kan sudah ada jembatan baru (di wilayah Selo-harjo, Pundong). Kenapa nggak dimanfaatkan?,” keluhnya.
Dari pantauan Radar Jogja, ke-macetan sudah tampak dari Simpang Empat Bakulan. Banyak kendaraan roda empat maupun roda dua mengular hingga pintu TPR Pantai Parangtritis. Selain pelat nomor Jogjakarta, tidak se-dikit pula kendaraan pelat nomor luar daerah yang akan menuju Pantai Parangtritis. Meskipun sempat digratiskan selama tiga jam, total PAD di TPR Pantai Parangtritis selama dua hari terakhir cukup fantastis. Pada saat malam pergantian tahun saja PAD yang diperoleh sekitar Rp 119 juta. Itu dengan jumlah pengunjung sebanyak 25.100 orang. “Jika ditotal dengan hari ini seki-tar 42.100 pengunjung,” sebutnya.
Dengan membrludaknya pen-gunjung saat malam tahun baru otomatis membuat target PAD di TPR Pantai Parangtritis terpenuhi, bahkan melebihi target. Dia me-nyebutkan, pada 2014 TPR Pantai Parangtritis ditarget mendapatkan PAD sebesar Rp 8 miliar. “Yang kami dapatkan Rp 8,3 miliar,” ungkapnya.
Kasat Lantas Polres Bantul AKP Endar Isniyanto mengakui arus lalu lintas di sepanjang Jalan Pa-rangtritis, khususnya di wilayah Kretek semrawut. Namun, dia membantah kemacetan di jalan Parangtritis karena belum maksimalnya hasil rekayasa lalu lintas. “Traffick light di sepanjang Jalan Parangtritis sudah dinonaktifkan agar kendaraan hanya dari arah utara dan selatan,” bebernya.
Di samping itu, kendaraan dari arah selatan juga sudah dialihkan ke Jalan Bantul melalui Simpang Tiga Ngangkruk, meskipun dengan sistem buka tutup. Menurutnya, jembatan baru di wilayah Selo-harjo, Pundong memang dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan kendaraan dari arah utara yang menuju Pantai Parangtritis. Hanya saja, akses jalan menuju dan setelah jembatan tidak layak.”Itu kan masuk kampung. Jalannya sempit dan tidak dapat dilalui kendaraan besar,” paparnya.
Dia menegaskan, kemacetan di Jalan Parangtritis karena jumlah petugas di TPR kurang memadai. Selain itu, mereka juga enggan melakukan jemput bola dengan menarik langsung retribusi ke-pada para setiap pengunjung. “Idealnya per satu pintu ada lima orang. Lha di lapangan yang di-terjunkan hanya dua orang,” tan-dasnya. (zam/din/ong)