HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
TERLALU KECIL: Salah satu peta petunjuk objek-objek wisata yang dipasang di salah satu titik di Jalan Maliboro ini dinilai belum memadai.
MUSIM liburan akhir dan awal tahun ini bisa menjadi pelajaran penting bagi Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ dalam menata kawasan Malioboro. Sebab, awal 2015 ini, penyu-sunan Detail Engineering Design (DED) ikon wisata ini bisa dimulai.Sebelum menyusun DED, tampaknya perlu mengkaji lebih dalam lagi. Itu ter utama mengenai papan penunjuk wisata di Malioboro.
Kenyataannya, fasilitas yang ada saat ini dinilai masih belum represen-tatif. Seperti yang ada di depan pintu masuk menuju Kantor Dinas Pariwisata DIJ. “Tidak terlihat dengan jelas,” kata Marita, salah seorang wisatawan, kemarin (2/1).
Peta wisata yang dipasang pun nyatanya tidak mampu menarik wisatawan. Padahal, jika dibuat lebih representatif, objek wisata di luar yang menjadi target kunjungan wisa-tawan bisa turut ramai. “Dari informasi saja, setelah ke Malioboro ke Keraton,” jelasnya.
Keberadaan peta wisata ini memang ter-batas. Di sepanjang Malioboro hanya ada empat yang kondisinya juga mengalami rusak. UPT Malioboro menambah salah satunya dengan peta wisata mobile yang bentuknya kecil. Pengunjung yang tertarik pun harus melihat dari jarak dekat untuk melihat peta wisata ini. Sebab, bagi pengguna jalan, jelas tidak bisa membaca peta wisata. “Jalannya macet, tidak bisa sambil lihat kanan-kiri,” tambah Sigit, pengunjung lain. (eri/din/ong)