ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
BANYAK ALASAN: DAK bidang pendidikan di Kabupaten Magelang tidak terserap maksimal. Alasannya beragam, mulai soal panitia, dokumen, dan lainnya.
MUNGKID – Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan kembali tidak bisa terserap maksimal. Pada tahun 2014, DAK pendidikan telah menumpuk sebesar Rp 200 miliar. Hingga kini, yang terserap tidak lebih dari separuh.Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga ( Disdikpora) Kabupaten Magelang Mushowir mengatakan, serapan DAK baru mulai berlangsung tahun 2014 dengan target lebih dari Rp 50 miliar
Namun, yang dilaksanakan baru di tingkat pendidikan dasar (dikdas).”Yang tingkat sekolah menengah atas belum dilaksanakan karena suatu dan lain hal,” ungkap Mushowir, kemarin (2/1).Ia melanjutkan, sampai saat ini belum semua sekolah bisa melaksanakan realisasi DAK. Mengingat tidak semua sekolah siap untuk menerimanya.”Tidak semua sekolah siap melaksanakan DAK. Baik karena alasan panitia, dokumen, maupun lainnya,” imbuhnya.
Hingga 2014, akumulasi DAK bidang pendidikan sebesar Rp 200 miliar. Hingga akhir Desem-ber lalu, bidang dikmen (pen-didikan menengah) yang meliputi sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA) sama sekali tidak melaksanakan kegiatan meng-gunakan DAK. Hanya bidang pendidikan dasar (dikdas) yakni sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang melaksanakan sejumlah ke giatan dengan dana DAK.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Magelang Haryono menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan menggunakan DAK berupa pembangunan fisik. Antara lain, rehab sedang, rehab berat, pembangunan ruang perpusta-kaan, ruang kelas baru, ruang lab IPA, ruang lab komputer, dan ruang lab bahasa. “Total ada 1.426 ruang yang sudah dibangun dengan menggunakan DAK Pen-didikan. Paling banyak berupa rehab ruang kelas,” jelas Hary-ono.
Ia menyebut, bidang dikdas menargetkan realisasi DAK sebesar Rp 101 miliar tahun ini untuk pembangunan fisik. Namun, dari target tersebut, hanya terealisasi atau terserap sebesar Rp 98 miliar. Masih ada sisa Rp 3 miliar yang tidak ter-serap. Tidak tercapainya target pembangunan fisik tersebut karena ada sejumlah sekolah yang sudah dibangun meng-gunakan bantuan dana dari APBD Kabupaten maupun bantuan dari pusat. “Sehingga dana dari DAK yang seharusnya dialoka-sikan untuk sekolah tersebut, jadi tidak terserap,” ungkap-nya.
Selain pembangunan fisik, dikdas juga menggunakan DAK Pendidikan untuk pengadaan buku Kurikulum 2013. Namun, Haryono enggan menyebutkan berapa total anggaran yang ter-serap untuk kegiatan tersebut, berikut target realisasi DAK untuk pengadaan buku.”Cuma sedikit kok, karena hanya beberapa sekolah yang me-rupakan pilot project K 13 dan harus menggunakan buku kurikulum tersebut. SD-nya cuma 10 sekolah dan SMP ada 6 sekolah,” katanya.
Haryono menjelaskan, sisa dana DAK yang tidak terserap tahun ini akan masuk dalam SILPA APBD. Harapannya, bisa digunakan pada 2015. Sehingga DAK Pendidikan bisa terserap sesuai target dan rencana.Seperti diketahui, total DAK yang belum terserap sejak 2010 lalu sekitar Rp 200 miliar. Angka tersebut merupakan akumulasi sisa DAK 2010 Rp 49 miliar, DAK 2011 sebanyak Rp 43,5 miliar, DAK 2012 ada Rp 75 miliar, ditambah DAK 2013 sebesar Rp 30 miliar. Jumlah tersebut sempat terserap sebesar Rp 54 miliar untuk kegiatan pembangunan fisik. Sesuai ke-tentuan yang berlaku, kegiatan dilaksanakan dengan pola swakelola. (ady/hes/ong)