MAGELANG – Realisasi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Magelang tahun ini melebihi pencapaian tahun sebelumnya. Terhitung sampai November 2014 men capai Rp 146,5 miliar. Artinya, naik dari tahun 2013 yang hanya Rp 107,7 miliar. Diper-kirakan, hingga akhir tahun 2014, PAD mencapai angka Rp 148 miliar
“Target PAD tahun 2014 sebe-sar Rp 124,4 miliar. Ternyata realisasinya melebihi atau hing-ga 117,64 persen. Target PAD tahun 2013 hanya Rp 96,3 mi-liar dengan realisasi Rp 107,7 miliar atau 111,88 persen. Ini menunjukan kota ini berkembang bagus,” kata Kabag Humas Pro-tokol dan Santel Kota Magelang Sutomo Hariyanto, kemarin (2/1).
Sektor jasa dan pariwisata me-nyumbang cukup besar, meski kalah dari pajak bumi dan bangu-nan (PBB), serta BPHTB. Ini tidak lepas dari perkembangan yang baik dari berbagai jenis usaha di kota jasa ini. Seperti kuliner, hotel, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UM-KM).Pemkot Magelang selama dua tahun terakhir intensif menata pusat-pusat kuliner yang me-rupakan relokasi dari sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang ada. Mayoritas pusat kuliner ramai dikunjungi pengunjung.
Memang, ada beberapa yang juga sepi pembeli.Ketua Asosiasi Pengusaha In-donesia (Apindo) Kota Magelang Eddy Sutrisno mengaku, kalau Kota Tidar berkembang baik dari sisi usaha, investasi, dan lalu lintas keuangan. Kebijakan fiskal Pemkot dinilai memadai, sehingga tercapai upah minimun kota (UMK) di atas Rp 1 juta.”Itu indikasi baik, sehingga daya beli masyarakat meningkat. Semua itu mendorong tumbuh kembang berbagai jenis usaha. Terutama jasa, seperti kuliner, restoran, hotel, properti, dan lainnya yang berkembang pesat dalam setahun ini,” paparnya.
Indikator lain terlihat dari harga tanah di dalam kota yang meningkat setiap tahun. Ini mendorong usaha properti ber-kembang pesat, hingga memicu masyarakat bisa memiliki rumah yang laik huni.”Kalau harga tanah di dalam kota itu naik, berarti kotanya berkembang. Itu terlihat di Kota Magelang, yang harga tanah naik di atas 10 persen setiap tahun,” ujarnya.
Namun, mantan anggota DPRD Kota Magelang itu menilai, ada sisi negatif dari perkembangan kota saat ini. Di antaranya belum adanya pemerataan dalam pe-nataan kawasan ekonomi dan kesejahteraaan rakyat. Ia me lihat kawasan pertokoan di Poncol dan Pecinan Jalan Pemuda ada perubahan ke arah negatif. Yakni, sepi pengunjung akibat pena-taan yang tidak komprehensif. Lalu kawasan Sidotopo, Kebon-polo dan Pasar Rejowinangun yang juga kurang berkembang.”Padahal, dalam master plan perekonomian, kawasan ini jadi prioritas. Artinya, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan tahun 2015. Termasuk masalah kriminalitas yang me-ningkat, seiring tumbuhnya perekonomian. Seperti pen curian, peredaran miras, judi, dan lain-nya,” kritiknya.
Di bidang pariwisata, Eddy menyoroti masih kurang diper-hatikannya kawasan Gunung Tidar yang menjadi ikon Kota Magelang. Termasuk penataan Taman Kyai Langgeng (TKL) yang jumlah pengunjung tahun ini berkurang meski pendapatan naik.”Baiknya Pemkot Magelang fokus pada pengembangan jasa dibanding branding Kota Se-juta Bunga. Sektor jasa jauh lebih besar kontribusinya dibanding kota sejuta bunga yang belum ada kontribusinya sama sekali,” usulnya.
Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan, dan Pariwi-sata (Disporabudpar) Kota Magelang Hartoko menge-mukakan, sektor pariwisata mem-beri banyak kontribusi pada PAD. Tercatat hingga November 2014, pariwisata me nyumbang PAD Rp 1,239 mi liar.”Sebenarnya kecil. Karena hanya beberapa tempat wisata saja yang langsung menjadi pemasukan daerah. Kami tidak berkecil hati, karena ke depan akan ditingkatkan. Di antaranya melalui program Ayo ke Magelang 2015,” paparnya.
Hartoko menjelaskan, tahun 2014 merupakan “Tahun Ber-kesan” yang dicanangkan pe-merintah, sebelum akhirnya bergulir “Ayo ke Magelang 2015″. Pemerintah banyak yang me-lakukan pembenahan sektor pariwisata. Terutama dalam menunjang program tersebut. Salah satunya pembenahan kawasan wisata Gunung Tidar melalui dana APBN miliaran rupiah. Dana ini digelontorkan untuk memperbaiki tangga menuju puncak, tembok, infra-struktur jalan, pembangunan pendopo di area makam Syekh Subakir, toilet, dan lainnya.”Proses pembangunan hampir 100 persen selesai. Wajah Gunung Tidar sudah lebih baik dari se-belumnya. Kami siap menerima lebih banyak lagi kunjungan wisatawan,” terangnya.
Selama ini, Hartoko mengaku sumbangan terbesar bagi PAD dari tempat wisata adalah TKL. Hingga November 2014, penda-patan taman ini sebesar Rp 9,848 miliar dengan jumlah pengun-jung sebanyak 577,704 orang. “Sektor lainnya masih kecil. Seperti Museum Jenderal Sudir-man yang masih perlu pem-benahan. Gunung Tidar kecil, karena belum resmi ditarik tiket. Ke depan, kami berdayakan se-mua potensi pariwisata, se hingga meningkatkan jumlah PAD,” janjinya. (dem/hes/ong)