DWI AGUS/RADAR JOGJA
KEARIFAN LOKAL: Upacara garebeg merangkum unsur-unsur kebudayaan lama Nusantara seperti nilai-nilai religi, bahasa dan adat istiadat

Merangkum Nilai-Nilai Religi, Bahasa dan Adat Istiadat

JOGJA – Garebeg memiliki makna simbolis kearifan lokal. Upacara adat kerajaan inipun masih berlangsung hingga saat ini di DIJ. Setiap tahunnya, ga-rebeg dirayakan sebanyak tiga kali. Seperti garebeg Syawal, ga-rebeg Besar dan garebeg Maulud.
Upacara garebeg juga merang-kum unsur-unsur kebudayaan lama Nusantara. Seperti nilai-nilai religi, bahasa dan adat is-tiadat. Selain itu dalam garebeg juga menampilkan hasil kebu-dayaan religius leluhur.”Berbagai ungkapan simbolis dalam garebeg sesungguhnya banyak mengandung nilai-nilai sosial budaya. Ini terbukti sangat bermanfaat untuk menjaga keseimbangan, keselarasan kehidupan masyarakat dari masa ke masa,” kata Pengageng Kawedanan Budaya lan Pariwisata Kadipaten Puro Pakualaman KPH Indrokusumo, kemarin (3/1).
Pria yang akrab disapa Kanjeng Indro ini menjelaskan garebeg erat dengan perkembangan re-ligiusitas. Termasuk dalam me-natap sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan Jawa Islam. Beberapa nilai-nilai yang terkandung juga diwujudkan mel-alui simbolisasi.Setiap garebeg memiliki mak-na yang berbeda. Garebeg Mau-lud, menurut Kanjeng Indro, sebagai bentuk wujud syukur atas hari kelahiran Nabi Muham-mad SAW.
Selain untuk memperingati hari lahir Nabi juga untuk memetik suritauladan dari kehidupan Rasullulah.Garebeg Syawal diselenggara-kan untuk menghormati bulan suci Ramadan. Disamping itu garebeg Syawal juga dimaksud-kan untuk menghormati Malam Lailatul Qadar. Terakhir adalah garebeg Besar untuk merayakan hari raya Idul Adha.”Garebeg ini dimaksudkan untuk merayakan umat Islam yang baru saja kembali dari menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Pada kesempatan ini Sultan Jogjakarta dan Adipati Pakualaman menyerahkan sejumlah hewan untuk kurban,” kata Kanjeng Indro.
Dalam kesempatan ini dirinya juga menjelaskan sejarah per-kembangan garebeg. Di awal masa sebelum penjajahan Jepang jumlah gunungan ada 18 gun-ungan. Gunungan-gunungan ini dibagikan ke sejumlah nda-lem Kepangeran.Ini karena setiap pangeran me-miliki tugas penting mengayomi dan membina masyarakat. Setiap gunungan yang diterima juga tidak dirayah. Gunungan ini di-bagikan per kelurahan lalu di-potong dan disebarkan ke sawah.”Dulu harapannya agar yang ditanam di sawah menjadi berkah dan kemakmuran. Sekarang sudah bergeser dan dirayah. Kalaupun ada sawah tapi sudah tidak ada yang menggarap,” katanya.
Menjelang tahun 1960an gun-ungan yang dibagikan meny-usut. Hingga hanya ada satu gunungan yang dihantarkan ke Masjid Gede Kauman Jogja-karta. Menjelang tahun 1994 gunungan ke Pura Pakualaman juga kembali dihidupkan.Hingga pada tahun 2011 me-nambah satu gunungan lagi untuk diberikan ke Kepatihan Jogjakarta. Pada tahun 2013 Sri Sultan Hamengku Buwono X memberi titah jika setiap garebeg selalu ada gunungan.”Dulu hanya garebeg Maulud saja tapi sekarang menjadi tiga. Garebeg juga memiliki makna pemberian Ngarso Ndalem ke-pada rakyatnya,” ungkapnya.
Kanjeng Indro tidak menampik adanya pemaknaan mistis pada setiap gunungan. Meski begitu dirinya mengimbau agar masy-arakat tidak terlalu mengkulk-tuskan. Selain doa tentunya manusia juga wajib berusaha untuk meraih apa yang diingin-kannya.Meski begitu dirinya pernah menemui ada masyarakat yang benar-benar percaya. Kala itu ada seorang ibu yang turut me-rayah gunungan. Ketika ditanya, alasannya untuk mengobati anaknya yang sedang sakit.”Hingga akhirnya pada garebeg tahun ketiga anaknya sendiri yang mengambil karena sudah sembuh. Pastinya sayur-sayuran ini hanyalah simbol yang dido-akan. Tentunya kalau berharap dan berdoa tetap kepada sang pencipta,” katanya.
Dalam setiap garebeg ada enam macam gunungan. Ter-diri dari gunungan lanang, gun-ungan wadon, gunungan gepak, gunungan pawuhan, gunungan darat dan gunungan kutug atau bromo. Masing-masing gun-ungan mempunyai bentuk dan makna yang berbeda.Dalam upacara garebeg turut menampilkan bregada kerajaan Keraton Jogjakarta. Seperti bre-gada Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogya-karta, Nyutro, Daeng, Jager, Pra-wirotomo, Mantrijero dan bre-gada Surokarso.”Sedangkan dari Kadipaten Pura Pakualaman dikawal oleh Bregada Lombok Abang Pakua-laman dan Bregada Plangkir. Adapula empat ekor gajah, dua mengawal hingga ke Kepatihan dan dua ke Pakualaman,” kata Kanjeng Indro. (dwi/ila/ong)