FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
URI-URI TRADISI: Gunungan lenteng saat masih ditaruh di Masjid Baiturahhim, Dusun Gunung Bakal, Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, kemarin (3/1). Setelah dilakukan doa bersama, kerupuk lenteng yang terbuat dari beras ketan ini dibagikan kepada warga yang hadir.

Peringatan Maulid Nabi Diwarnai Angin Kencang

MAGELANG – Sabtu (3/1) kemarin, seluruh umat Islam memperingati Hari Besar Islam (PHBI) Maulid Nabi Muhammad SAW, tak ter-kecuali masyarakat di Dusun Gunung Bakal, Sumberarum, Kecamatan Tempuran, Kabupa-tren Magelang. Di Dusun Gunung Bakal terse-but, ribuan umat Islam berdesakan untuk mendapatkan pembagian kerupuk lenteng. Tradisi seperti ini, dibuat setiap tahunnya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Ketua Panitia Garebeg Gunungan Lenteng, Fatkhur Rohim menuturkan, tradisi Garebeg Gunungan Lenteng inidigelar setiap Mau-lid Nabi Muhammad SAW. Untuk kepen-tingan tersebut, setiap tahunya masyarakat membuat sebuah makanan (kerupuk) yang nantinya akan dibentuk menjadi gunungan. “Makanan yang dibuat adalah lenteng yang khas dan hanya diproduksi saat menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW,” katanya.
Dari ritual ini, ribuan umat Islam tumpek blek antre berdesakan untuk bisa mendapat-kan tatanan atau tumpukan kerupuk ketan yang disunduk dengan lidi. “Tradisi ini sudah digelar sejak puluhan bahkan ratusan tahun setiap memperingati Maulid Nabi,” tandasnya.
Para tamu undangan seperti camat, lurah atau kepala desa, dan wakil masyarakat se-tempat berada di mimbar Masjid Baiturahhim. Tak terkecuali pengisi tausiah yang didatang-kan dari Purworejo, Habib Hasan Ba’abut.Sebelum upacara dimulai, masyarakat yang mengikuti acara Maulid Nabi, diizinkan masuk ke dalam masjid untuk melihat gunungan lenteng yang nantinya akan diberikan kepada masyara-kat. Panitia juga memperbolehkan masyarakat untuk berfoto dengan gunungan lenteng.
Alasan gunungan lenteng dibentuk di dalam Masjid Baiturahhim, kata Fatkhur Rohim, mengajarkan masyarakat untuk berbondong-bondong dalam melakukan kebaikan amal saleh. “Ini mengandung maksud, agar masya-rakat senantiasa beribadah dan melakukan ibadah di masjid,” ujarnya.
Tidak hanya bagi masyarakat Dusun Gunung Bakal, tapi juga terhadap masyarakat Islam pada umumnya. “Alasanya adalah agar masyarakat selalu datang beribadah ke masjid, tidak hanya masyarakat asli sini, tetapi mengajarkan umat Islam selalu mela-kukan kebaikan,” tandas Fatkhur Rohim.
Dijelaskan, Kerupuk Lenteng dibuat dengan bahan baku beras ketan yang diolah dengan parutan kelapa. Cara pembuatannya, beras ketan ditumbuk hingga halus, lalu digiling hingga tipis. Setelah itu dijemur dengan beralaskan daun pisang. Setelah itu digoreng.
Selanjutnya gunungan Kerupuk Lenteng disulap dengan apik di dalam masjid dengan lidi aren kemudian disusun dengan buah-buahan, seperti jambu, semangka, pepaya dan rambutan. Bagi masyarakat setempat, Garebeg Gunungan Lenteng juga sebagai media untuk bersedekah. Karena bagi mereka, sedekah tidak harus berupa uanga, juga bisa dengan lenteng yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat yang datang.
Acara garebeg ditutup dengan menerbang-kan balon raksasa. Balon raksasa dengan ketinggian 11 meter dan berdiameter enam meter ini, juga dinanti- nanti oleh masyarakat, khususnya anak- anak. Namun sayangnya, cuaca kurang bersabat, angin bertiup kencang, sehingga membuat balon yang akan diter-bangkan sobek tersapu angin. Balon pun gagal diterbangkan. (dem/jko/ong)

Ajang Bersedekah dan Pengingat Pedukuhan

DIADAKANNYA Garebeg Gunungan Len-teng, juga sebagai ajang bersedekah, yakni mengajarkan masyarakat bersedekah bagi orang lain yang membutuhkan dengan cara membagi-bagikan lenteng. “Selain itu juga sebagai ucapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen, khususnya bagi warga Dusun Gunung Bakal,” kata Ketua Panitia Garebeg Gunungan Lenteng, Fatkhur Rohim.
Selain itu, acara Garebeg Gunungan Lenteng juga untuk mengingat kalau dahulu di dusun tersebut pernah akan menjadi sebuah gunung, namun dikarenakan ada orang yang bertem-pat di daerah gunung, sehingga gunung tidak jadi terbentuk. Dan dusun ini dinamakan Gunung Bakal atau Bakal Menjadi Gunung. “Ini sekaligus untuk mengingatkan kepada warga masyarakat, tentang sejarah dan ter-bentuknya pedukuan ini,” tandasnya.
Camat Tempuran D Umar Singgih menga-presiasi tradisi masyarakatnya tersebut. Bahkan ia berharap agar tradisi warisan nenek moyang ini bisa dilestarikan. Karena, pada kenyataannya juga mampu menjadi magnet, sehingga ribuan masyarakat hadir untuk mengikuti tradisi Gunungan Lenteng.”Garebeg Gunungan Lenteng ini yang selalu dinanti saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena itu, sudah seha-rusnya kami mengapresiasi kegiatan ma-syarakat seperti ini, kata D Umar Singgih. (dem/jko/ong)