SETIAKY/RADAR JOGJA
PUNCAK SEKATEN: Gunungan berisi hasil bumi dalam Garebeg Maulud diusung para abdi dalem Keraton Jogja. Foto bawah, masyarakat umum berebut gunungan di halaman Masjid Gede Kauman, kemarin (3/1).

Hasil Gunungan Semua Bisa Dikonsumsi

JOGJA – Peringatan kelahiran Nabi Muham-mad SAW di Jogja berlangsung meriah. Sesuai tradisi, selama sebulan lebih diadakan Sekaten di Alun-Alun Utara Jogja dan puncaknya Keraton Jogja kemarin menggelar Garebeg Maulud. Terdapat tujuh gunungan yang dikelurkan, lima di antaranya diperebutkan masyarakat di halaman Masjid Gede Kauman.Melalui pengeras suara, petugas berkali-kali mengingatkan masyarakat yang berada di halaman Masjid Gede Kauman untuk bersabar
Meski gunungan masih be-rada di keraton, ribuan orang sudah memadati halaman mas-jid. Berulangkali petugas me-minta masyarakat untuk tidak saling dorong dan menjaga barang-barangnya.Suara tembakan salvo, yang menandai gunungan sudah mu-lai bergerak ke Masjdi Gede Kauman, makin membuat ma-syarakat antusias. Terlebih saat lima gunungan masuk ke kom-pleks masjid. Penjagaan ketat dari abdi dalem dan kepolisian bisa memaksa masyarakat ber-sabar. Mereka diminta menung-gu hingga selesainya doa yang dibacakan penghulu Keraton Jogja KRT Kamaludiningrat.
Begitu doa selesai, warga lang-sung merangsek maju. Mereka segera berebut lima gunungan yang ada. Dalam Garebeg Mau-lud kali ini, Keraton Jogja mengeluarkan tujuh gunungan. Yaitu gunungan lanang, wadon, gepak, pawon dan gunungan bromo. Dua gunungan yang lain dibawa ke kompleks Kepatihan dan Puro Pakualaman untuk diperebutkan di sana. Menurut KRT Kamaludingrat, dalam setahun Keraton Jogja mengeluarkan tiga kali gu nungan. Yaitu Garebeg Syawal saat Idul Fitri, Garebeg Besar saat Idul Adha dan Garebeg Maulud saat Maulud Nabi ini. “Garebeg Mau-lud ini yang terbesar. Yang Sya-wal dan Besar tidak sebesar ini,” ujarnya.
Gunungan yang dikelaurkan Keraton Jogja ini juga merupa-kan bentuk rasa syukur Keraton Jogja karena suksesnya perta-nian. Hal itu juga ditandai dengan gunungan yang dikeluarkan berupa hasil-hasil pertanian. “Gunungan ini merupakan ben-tuk sodaqoh Sultan kepada ra-kyatnya,” jelas dia.
Tetapi karena jumlah gun-ungan yang dibagikan terbatas, sementara masyarakat yang datang banyak, menjadikan ha-rus berebut untuk mendapatkan. Hasil bumi yang terdapat dalam gunungan itu, lanjutnya, meru-pakan makanan atau bahan pokok yang bisa dikonsumsi. “Harusnya dimakan karena juga enak. Ini kan juga sedekah Sultan,” ungkapnya.
Dikatakan, sebenarnya dalam gunungan yang dikeluarkan keraton terdapat dua filosofis, yaitu sebagai sedekah kepada masyarakat dan juga wujud tau-hid, dengan bentuk gunungan yang mengerucut ke atas. Gun-ungan itu berisi berbagai hasil bumi dan makanan. “Semuanya bisa dimakan,” tuturnya.
Diakui, masih terdapat ma-syarakat yang salah mengarti-kan dengan menganggap akan mendapat manfaat dari gun-ungan. Menurutnya, pemaha-man seperti itu sebenarnya tidak benar. Berkah, jelas dia, merupakan ridho dari Allah. Karena itu sebelum diperebut-kan, gunungan didoalan men-urut ajaran Islam. “Keselamatan, kemakmuran, kesehatan itu dari Allah. Rebutan itu juga wujud kebersamaan, berebut rizki Allah,” jelasnya.
Meskipun begitu, belum semua masyarakat yang datang ke pe-lataran Masjid Gede Kauman kemarin beranggapan seperti itu. Fandi, salah satunya. Warga Kauman Jogja yang dalam Ga-rebeg Maulud kemarin menda-patkan puncak dari gunngan lanang ini mengaku akan me-nyimpannya. Meski yang dida-patkan kemarin merupakan makanan dari gandum yang bisa dikonsumsi. “Mau disimpan saja,” ujarnya.
Pria 30 tahun ini mengaku setiap garebeg selalu datang dan ikut merayah. Tetapi dirinya hanya mengincar puncak dari gunung-an lanang saja. Begitu sudah mendapatkan incaran itu, dia akan langsung turun. Untuk itu dirinya harus berada di depan, supaya bisa cepat naik ke gunungan lanang yang diletakkan tepat di depan pintu masuk masjid. “Masuknya lewat dalam masjid, jadi bisa langsung naik ke gunungan,” ungkap Fandi. (pra/laz/ong)