DWI AGUS/RADAR JOGJA
DISKUSI: Yati Pesek berbagi pengalamannya saat berusaha membangkitkan kembali pertunjukan wayang orang hingga akhirnya membentuk paguyuban wayang orang Tresna Budaya.

Sempat Dibubarkan saat Pentas

JOGJA – Sebagai seorang se-niman, Yati Pesek tentunya me-miliki ribuan pengalaman. Salah satu yang paling terkenang ada-lah saat pentas wayang orang pada medio tahun 1964. Kala itu, pementasan wayang orang yang dilakoninya sempat dibu-barkan karena diduga sebagai gerakan pemberotakan.Hal itu diungkapkan Yati Pesek saat Diskusi Wayang Orang Pan-ca Budaya di Taman Budaya Yo-gyakarta (TBY) belum lama ini.
Diungkapkan Yati, saat itu sedang maraknya isu pemberontakan oleh PKI. Para seniman pun dii-dentikan sebagai pengikut dan pendukung gerakan ini. Karena pada waktu itu seniman mayori-tas bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Saya ingat pada waktu itu se-dang menjadi tokoh Priambodo. Waktu akan adegan goro-goro tiba-tiba pementasan dibubar-kan. Karena waktu masih kecil jadi tidak tahu apa-apa,” kata perempuan kelahiran Jogja-karta, 8 Agustus 1952 ini.
Waktu itu dirinya masih ber-gabung dalam paguyuban way-ang orang Muda Rahayu. Akibat isu sosial ini wayang orang sem-pat terhenti pementasannya. Tidak hanya pelaku namun para penikmatnya juga takut untuk menonton wayang orang.Meski begitu, jiwa dan roh wayang orang tetap hidup di masing-masing seniman. Sem-pat lama tidak menunjukkan kemajuan, Yati akhirnya mem-buat gebrakan. Pada tahun 2003 dirinya bersama seniman dan pemerhati seni mengadakan sebuah pementasan.
Pementasan yang dilakukannya unik karena terwujud dalam ko-laborasi. Sehingga wayang orang tidak hanya berdiri secara man-diri. Beberapa ilmu panggung seperti lawak komedi juga ikut dikemas bersama wayang orang.”Mengangkat lakon Limbuk Cangik yang dikemas bersama lawakan. Jika melihat pakem tentunya ini bukan asli wayang orang. Tapi usaha ini dilakukan untuk menarik minat baik pela-ku maupun penonton pada waktu itu,” kenang Yati.
Upaya yang dilakukan oleh istri Maryo ini berbuah manis. Secara perlahan wayang orang mulai menunjukkan eksistensinya. Ini diimbangi dengan mulai bangkitnya kesenian ini di beberapa daerah.Pengemasan wayang orang dengan gaya lawak ini ternyata memiliki makna. Yati mengiba-ratkan ini sebagai bentuk ke-bangkitan. Sebagai langkah awal tentunya harus hadir dengan nuansa yang berbeda. Sehingga dipilihnya bangkitnya wayang orang dalam kemasan humor.”Kita bikin lawak tapi pakai pa-kaian wayang. Tujuannya agar tidak sedih dalam memaknai bang-kitnya wayang orang,” katanya.
Aksi ini berlanjut pada tahun 2009 dengan berdirinya paguy-uban wayang orang Tresna Bu-daya. Berdirinya paguyuban inipun atas usaha bersama se-niman dan pengusaha yang antusias terhadap seni budaya.Yati mengaku optimistis bahwa pelestarian wayang orang dapat berjalan. Selain regenerasi sudah berjalan, para peminatnya juga bertambah. Belum lagi dukungan dari berbagai instansi untuk sebuah pementasan.”Melihat kondisi sekarang saya sangat yakin dan optimistis. Wayang orang sudah menda-patkan tempat di hati masyara-kat,” katanya. (dwi/ila/ong)