MUNGKID – Penyerapan dana alokasi khusus (DAK) Pendidikan di Kabupaten Magelang mendapat tanggapan legislatif. Akumulasi DAK Pendidikan yang mencapai Rp 200 miliar tersebut, penyerapannya dinilai belum maksimal. Dari jumlah itu, hingga tutup tahun 2014 hanya terealisasi atau terserap Rp 98 miliar
Salam sebulan, Dinas Pen-didikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) bisa menyelesaikan pekerjaan fisik senilai Rp 44 miliar. Padahal, dalam rentan waktu Januari hingga Oktober 2014, jumlah anggaran yang terserap Rp 54 miliar. Proyek DAK Pen-didikan terkesan dilaksanakan dengan cepat. Ini membuat sejumlah kalangan sangsi pelaksanaan anggaran bisa tepat sasaran.”Banyak sekolah yang batal me-nerima bantuan, padahal masuk daftar penerima. Bahkan, sekolah tersebut rusak akibat bencana,” kritik Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang Grengseng Pamuji, kemarin (4/1).
Grrengseng menyangsikan pelaksanaan DAK tahun ini. Ia menemukan kejanggalan pelak-sanaan di sejumlah sekolah dasar. Tidak hanya para pe nerima yang tidak tepat sasaran, tetapi perencanaan juga kurang matang.”Perencanaan di lapangan kurang matang. Terbukti sekolah yang rusak berat hanya men dapat bantuan rehab ringan,” sindirnya.
Total DAK yang belum terserap sejak 2010 diketahui Rp 200 miliar. Angka tersebut merupakan akumulasi sisa DAK 2010 Rp 49 miliar, DAK 2011 Rp 43,5 miliar, DAK 2012 Rp 75 miliar, ditambah DAK 2013 Rp 30 miliar.Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikpora Kabupaten Magelang Haryono mengatakan, total rea-lisasi tahun 2014 sebesar Rp 98 miliar. Kegiatan yang diseleng-garakan adalah pembangunan fisik. Antara lain, rehab sedang, rehab berat, pembangunan ruang perpustakaan, ruang kelas baru, ruang laboratorium IPA, ruang laboratorium komputer, dan ruang laboratorium bahasa. Ia mencatat ada 1.426 ruang yang sudah dibangun dengan menggunakan DAK Pendidikan. “Paling banyak berupa rehab ruang kelas,” katanya.
Sebenarnya, bidang dikdas menargetkan realisasi DAK sebesar Rp 101 miliar tahun 2014. Dari target tersebut, hanya terealisasi atau terserap Rp 98 miliar. Masih ada sisa Rp 3 miliar yang tidak terserap. Tidak ter-capainya target pembangunan fisik, karena ada sejumlah sekolah yang sudah dibangun meng-gunakan bantuan dana dari APBD kabupaten maupun bantuan dari pusat. “Sehingga dana dari DAK yang seharusnya di-alokasikan untuk sekolah men-jadi tidak terserap,” urainya.
Selain pembangunan fisik, dikdas juga menggunakan DAK Pendidikan untuk pengadaan buku Kurikulum 2013. Namun, Haryono enggan menyebutkan berapa total anggaran yang ter-serap untuk kegiatan tersebut. Termasuk target realisasi DAK untuk pengadaan buku.”Cuma sedikit kok, karena hanya beberapa sekolah yang meru-pakan pilot project K 13 dan harus menggunakan buku ku-rikulum tersebut. SD-nya cuma 10 se kolah dan SMP ada 6 seko-lah,” katanya. (ady/hes/ong)