GUNTUR AGA/RADAR JOGJA
KREATIF: Lewat tangan terampil Muhammad Syaefuddin, sampah botol mampu disulap menjadi barang bernilai seni dan ekonomis

Pilih Cat Tembok, Pakai Teknik Dot untuk Konfigurasi

Tidak semua orang mau menyibukkan diri dengan sampah. Sampah dan barang tak terpakai lebih sering dibiarkan teronggok. Namun di tangan Muhammad Syaefuddin, ragam barang tak terpakai ini menjadi berharga. Mulai dari hiasan apik hingga memiliki nilai seni yang indah
DWI AGUS, Jogja
MINGGU sore (4/1) langit Jogjakarta te-rasa kurang bersahabat. Awan mendung kecil menggantung seakan menutupi rona sinar matahari. Di sisi lain ini tidak men-ghentikan orang untuk beraktivitas. Salah satunya adalah Muhammad Syaefuddin yang rajin bergelut dengan sampah.Bukan sampah sembarang sampah, namun sampah yang memiliki nilai tinggi. Ditangan pria kelahiran Sidoarjo 8 November 1968 ini, ragam sampah disulap berbeda.
Baru-baru ini dirinya berhasil menyulap limbah botol bekas menjadi hiasan yang cantik.”Tangal 7 Desember tahun lalu ada kun-jungan dari salah satu instansi. Diminta membuat produk kreatif berupa kompos dan kerajinan. Akhirnya membuat keraji-nan dari botol bekas,” kata pria berambut gondrong ini.
Ditemui di kediamannya, RW 02 Pingit, Bumijo, Jetis, Jogjakarta, dirinya terlihat sibuk. Pria yang akrab dipanggul Udin ini sibuk menata botol bekas. Di depan pintu rumah dirinya melukis satu persatu-satu botol beragam bentuk ini.Teknis yang digunakan pun terbilang unik. Hanya dengan titik, Udin mampu mengha-silkan sebuah karya seni. Alhasil botol kaca yang awalnya polos terlihat memiliki pola. Pola titik ini pun seakan membuat konfigu-rasi gambar
“Kalau tekniknya dot bahasa Inggrisnya titik. Catnya pakai cat tembok yang diberi campu-ran lem dan air,” ungkapnya.
Meski terlihat sederhana, ke-nyataannya teknik ini tidak mudah. Terlebih untuk menempelkan cat pada bidang botol yang licin. Udin pun mengaku telah melakukan riset beberapa kali untuk men-ghasilkan karyanya saat ini.Teknik ini sudah dia kembang-kan sejak empat tahun yang lalu. Awalnya belum ada bayangan akan dimanfaatkan sebagai peng-embangan bank sampah. Baru-lah saat diminta membuat ke-rajinan, ide ini dia gelontorkan.
Keahlian suami dari Ana Prasti Menangsi ini tidak hanya sampai pada botol kaca. Botol plastik pun dia sulap menjadi nilai ekonomi. Bedanya botol ini tidak dia lukis, tapi dipotong. Potong-an ini lalu dia bentuk menjadi ragam manik-manik.”Dari satu botol plastik bisa menghasilkan puluhan manik-manik. Ada gelang, kalung, anting-anting, bros, sedangkan botol kaca bisa jadi vas bunga atau hiasan interior,” ungkapnya.
Udin menjabarkan daya krea-tivitas ini dapat dikembangkan dalam masyarakat. Terutama dalam memaksimalkan bank sampah. Imbasnya, selain me-naikkan nilai ekonomi juga ke-pedulian terhadap lingkungan.Udin yang juga dipasrahi men-jadi ketua bank sampah RW 02 siap mengawal. Untuk mengum-pulkan botol bekas tidak cukup dari RW-nya saja. Tak jarang dirinya harus keluar dari “kan-dang” untuk berburu botol-botol bekas ini.
Rata-rata botol ini dibeli dengan harga Rp. 1500,- untuk botol kaca dan dibawah Rp. 500,- untuk botol plastik. Namun setelah dipoles harganya bisa naik dua bahkan berkali lipat. Tentunya perlu daya kreativitas tinggi. Juga butuh ketelatenan dan ke-sabaran untuk merampungkan satu botol.Untuk saat ini motif yang di-kembangkan memang baru dot. Namun tidak menutup kemungkinan ke depan akan ada motif lain. Meski begitu motif dot tetap menjadi fokus utama. Ini karena motif ini menjadi ciri khas dari pemanfaatan botol bekas ini.”Rencananya juga kan mendaf-tarkan ke Dewan Kerajinan Na-sional Daerah Kota Jogja. Apa-lagi saya melihat kerajinan jenis ini memang belum ada di Jog-jakarta,” ungkapnya.
Udin pun tak ragu cerita tentang pengalaman hidupnya. Masa muda Udin bisa dibilang hidup dari jalanan. Selepas lulus dari SMA Antartika Sidoarjo di tahun 1989, dia pergi ke Jakarta. Di ibu kota dirinya bertahan kurang 1,5 tahun.Berlanjut ke Bali di tahun 1990 untuk mencoba peruntungan. Di sini dirinya hanya bertahan kurang dari satu tahun. Beber-apa kali mencoba berjualan di jalan dirinya mendapatkan penolakan. Ini karena peraturan di Bali yang ketat terhadap pedagang pada waktu itu.
Kegagalan ini tidak membuatnya putus asa. Di tahun 1991 dirinya memutuskan untuk hijrah ke Jogjakarta. Seakan mendapatkan pulung, nasib baik terus menaungi dirinya. Udin mengawali kehidu-pannya di Malioboro.”Saya ingat waktu itu masih ber-jualan gelang yang dipintal dari benang. Bahannya dari plat dan gelangnya bentuk ukiran nama. Pada waktu itu sangat laku keras mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” kenangnya.
Kemujuran tidak hanya sampai disini, di tahun 1999 dirinya pergi ke Belanda. Berkat kegigi-hannya, Udin diajak ke Belanda untuk memgembangkan kera-jinan. Uniknya dalam kunjung-an ini status Udin hanya izin liburan.Namun dalam kenyataannya dirinya kerap berjualan. Tentu-nya ini melanggar peraturan yang berlaku. Beberapa kali dirinya pun tertangkap petugas keimigra-sian. Namun Udin memiliki cara jitu, dirinya berdalih hanya membantu teman.”Saya ke sana hingga tahun 2006 dan selalu kembali setiap tiga bulan sekali. Pernah tertang-kap dan berdalih hanya mem-bantu. Karena saat di Indonesia saya sering dibantu teman saya ini. Akhirnya dilepaskan dan masih bisa terus berkarya,” kenangnya.
Satu kenangan yang tak pernah dilupakan adalah Tong Tong Fair. Ajang akbar antara Indonesia dan Belanda ini memiliki arti spesial baginya. Ajang yang terkenal se-bagai pasar malam ini menyajikan ragam kekayaan seni.Selain itu beberapa pernak-pernik dolanan bocah khas In-donesia juga ada. Bahkan Udin selalu kebanjiran permintaan saat ajang ini berlangsung. Menurut-nya, di Belanda dolanan tradisi lebih mendapatkan tempat.”Mereka seakan takjub atas kekayaan yang dimiliki Indone-sia. Mereka membeli bukan untuk dimainkan, tapi dikol-eksi. Paling senang membeli kapal otok-otok khas sekaten,” katanya.
Lebih lanjut tentang peman-faatan sampah, Udin berharap semua pihak urun rembug. Tidak hanya pemerintah, namun juga masyarakat dan pemerhati lain-nya. Jika dikembangkan maka akan menjadi sebuah potensi ekonomi dan seni.”Kalau bisa berkarya tapi tidak bisa difasilitasi sama saja. Tapi juga perlu keinginan yang ting-gi dari semua pihak,” tandasnya. (*/laz/ong)