Pemerintah Belum Lakukan Langkah yang Sistematis

JOGJA – Jumlah penduduk yang mayoritas Islam bukan menjadi ja-minan perkembangan perekono-mian syariah bergerak cepat. Di In-donesia, perekonomian syariah bisa dibilang stagnan. Ini dibuktikan pangsa pasar perbankan syariah yang hanya 5 persen. Angka itu kalah jauh dengan Malaysia yang mencapai 20-25 persen.
Sekretaris Umum Masyarakat Eko-nomi Syariah (MES) DIJ Priyonggo Suseno mengungkapkan, total aset yang dimiliki perbankan syariah se-cara nasional hanya Rp 250 triliun. Ini masih jauh dibandingkan dengan perbankan konvensional yang men-capai Rp 50 ribu triliun. Menurutnya, tersendatnya per-kembangan perekonomian syariah karena belum adanya komitmen penuh dari masyarakat dan pemerintah dalam menerapkan sistem ekonomi syariah.”Padahal jika dibandingkan dengan sistem konvensional, bank syariah lebih tahan terhadap krisis. Ini dibuk-tikan saat krisis ekonomi 1998, di mana bank syariah masih terbilang stabil,” papar Priyonggo beberapa waktu lalu.
Priyonggo menambahkan, kesiapan perekonomian syariah menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 juga minim, dibandingkan per-siapan perekonomian konvensional. Ini bisa dilihat belum adanya langkah sistematis yang dilalukan pemerintah dalam meningkatkan performa eko-nomi syariah.Hal senada juga disampaikan ekonom Ardito Bhinadi. Menurutnya, pangsa pasar bank syariah Indonesia masih sangat rendah.
Hal tersebut disebab-kan pemahaman masyarakat yang masih kurang terhadap sistem eko-nomi syariah itu sendiri.Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), litrasi lembaga kuangan syariah untuk wilayah DIJ dan Jawa Tengah baru sebesar 21 persen. Market share perbankan syariah DIJ sebesar 7,72 persen pada posisi Juni 2014. “DIJ tercatat masih yang tertinggi secara nasional,” jelasnya.
Menurut Ardito, persoalan yang di-miliki perbankan syariah adalah kurang sumber daya manusia (SDM), baik secara kualitas maupun kuantitas. Selain itu, pengaturan dan infrastruk-tur pengawasan belum sepenuhnya mengakomodasi kegiatan operasional bank syariah. Belum lagi, lanjut Ardito, identifi-kasi masalah yang ditemukannya masih seputar inovasi dan positioning produk yang masih rendah.
Selain itu, pelayanannya masih terbilang belum efisien.Sebelumnya, Direktur Eksekutif De-partemen Kebijakan Makropruden-sial Bank Indonesia Darsono mema-parkan pada tahun 2014, aset, DPK, dan pembiayaan bank syariah men-galami peningkatan pada September 2014. Nilai aset, DPK, dan pembiayaan bank syariah pada September 2014 berturut-turut sebesar Rp 244,2 triliun, Rp 185,51 triliun, dan Rp 188,06 triliun.”Meski mengalami peningkatan, namun pada periode yang sama pangsa pasar aset bank syariah meng-alami penurunan dibandingkan pe-riode sebelumnya. Pangsa pasar aset bank syariah pada 2013 sebesar 4,89 persen dan pada September 2014 se-besar 4,51 persen,” jelasnya.
Ia mengatakan, pada September 2014 pembiayaan Bank Syariah paling besar disalurkan untuk sektor lain-lain dengan nilai pembiayaan Rp 77,87 triliun. Ke-mudian sektor jasa dunia usaha sebe-sar Rp 50,33 triliun dan sektor perda-gangan, restoran, dan hotel sebesar Rp 15,82 triliun. (bhn/hes/ong)