ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
HARU: Ervani Emy Handayani memeluk simpatisannya yang telah memberikan dukungan moril selama persidangan, usai vonis bebas di PN Bantul, kemarin (5/1).

grafis-ervani

Langsung Peluk Pendukungnya

BANTUL – Terdakwa kasus pencemaran nama baik melalui media sosial Facebook, Ervani Emy Handayani, 29, akhirnya divonis bebas oleh ma-jelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bantul, kema-rin (5/1). Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai Sulistyo M Dwi Putro menyatakan, Ervani tidak terbukti secara sah dan meyakinkan pada tiga dakwaan, yakni pasal 45 Ayat 1 juncto Pasal 27 Ayat 3 UU ITE, Pasal 310 Ayat 10 KUHP tentang Pencemaran nama baik, serta Pasal 311 Ayat 1 KUHP tentang fitnah. “Membebaskan terdakwa dari segala dakwaan, mengembalikan barang bukti berupa ponsel Black-berry serta membebankan biaya perkara kepada Negara,” tutur Sulistyo saat membacakan nota putusan.
Pada sidang sebelumnya (18/12), ibu rumah tangga ini dituntut oleh jaksa penuntut umum (JPU) dengan hukuman lima bulan penjara dengan masa percobaan 10 bulan. Selain itu, Ervani juga dituntut membayar denda Rp 1 juta subsider tiga bulan penjara
Sontak, keputusan majelis ha-kim ini disambut suka cita Er-vani beserta seratusan pendu-kungnya yang ikut menghadiri persidangan ini. Usai persi-dangan, perempuan berjilbab ini menemui dan memeluk satu per satu pendukungnya. Suasana haru pun terasa di ha-laman pengadilan.”Terima kasih atas semua du-kungan yang diberikan. Saya tidak punya harta. Saya tidak punya kekuasaan. Saya hanya bisa berdoa selama proses hukum berjalan,” ucap Ervani sambil sesekali tangannya mengusap air matanya.
Ervani mengatakan perkara yang pernah membuatnya men-dekam di tahanan LP Wirogunan, Jogja, ini dapat menjadi pelaja-ran bagi siapa saja pengguna media sosial. Agar mereka ber-hati-hati saat melontarkan kri-tikan melalui dunia maya itu.Ervani sendiri dilaporkan oleh Diah Sarastuti alias Ayas karena menyebut Ayas seperti anak ke-cil, labil dan lebay dalam status di akun Facebook-nya. Status itu ditulis Ervani karena galau se-telah suaminya, Alfa Janto, sat-pam di toko aksesoris Jolie Jogja Jewellery dipecat secara sepihak.
Ervani sempat ditahan di Lapas Wirogunan selama 20 hari.Syamsudin Nur Seha, anggota Tim Penasihat Hukum Ervani menyampaikan, aparat penegak hukum seperti kepolisian mau-pun kejaksaan agar tak seenaknya sendiri ketika menangani suatu perkara. Mereka diminta jangan sampai mengikuti kemauan pelapor.”Setelah ini, kami akan men-dampingi Alfa Janto (suami Er-vani) untuk menuntut hak ke-pada Jolie Jogja Jewelery. Ada tiga tuntutan yang akan kami sampaikan, yakni pesangon, penghargaan masa kerja dan penggantian hak,” beber Syam-sudin. (zam/din/ong)

Sesuai Realitas, Hakim Diapresiasi

PENGAMAT sosial dari UGM Ari Sujito mengapresiasi kepu-tusan majelis hakim Pengadilan Negeri Bantul yang membebas-kan terdakwa Ervani Handaya-ni. Bagi Ari, ibu rumah tangga itu diajukan ke pengadilan atas tuduhan melanggar Pasal 27 ayat 3 UU Informasi dan Tran-saksi Elektronik (ITE) memang layak dibebaskan
Sebab, apa yang ditulis pada media sosial Facebook sesuai realitas yang ada di tengah ma-syarakat, bukan mengada-ada.”Vonis bebas tersebut mem-buktikan bahwa realitas sosial dengan hukum tidak ada jarak. Hukum tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial,” kata Ari ke-pada Radar Jogja kemarin (5/1).
Vonis bebas yang dijatuhkan ma-jelis hakim terhadap Ervani harus dipahami oleh aparat kepolisian dan masyarakat. Aparat penegak hukum kepolisian diminta tidak mudah gegabah menyidik perkara yang ada hubungan dengan reali-tas masyarakat. Apalagi, perkara itu muncul atas laporan warga yang merasa dirugikan.”Kepolisian harus paham dengan realitas sosial. Jangan hanya berpe-gang pada laporan. Setiap laporan tidak harus diproses, terutama laporan yang mendapat penola-kan dari masyarakat,” jelas Ari. (mar/laz/ong)