DWI AGUS/RADAR JOGJA
KARYA MOTINGGO BUSYE: Naskah Barabas saat dipentaskan kembali di Auditorium Teater ISI Jogjakarta, Minggu malam (4/1). Sang sutradara Salim Putra Ladiamu mengemas pementasan dengan wujud kebaruan.
BANTUL – Meski kerap dipentaskan, naskah Barabah karya Motinggo Busye tetap menarik untuk ditampilkan. Naskah yang menyorot kehidupan keluarga kecil ini dipentaskan di Auditoriom Teater ISI Jogjakarta, Minggu malam (4/1). Sang sutradara Salim Putra La-diamu mengemas pementasan ini dengan wujud kebaruan.
Salim tidak menampik naskah ini kerap dipentaskan. Bahkan dirinya juga sering menontop pementasan Barabah dengan sutradara yang berbeda. Ketertarikan untuk membawakan naskah ini karena ada faKtor kedekatan secara emosional.”Tokoh utama Banio adalah sosok pria tua yang memiliki banyak istri. Ini juga terjadi di keluarga besar saya di Kaliman-tan. Kakek saya istrinya tujuh dan nenek suaminya sembilan. Lalu bapak saya istrinya dua. Faktor kedekatan inilah yang membuat tertarik menggarap naskah ini,” kata Salim seusai pementasan.
Seringnya dipentaskan menjadi tantangan tersendiri bagi Salim. Se-hingga dirinya mengemas beberapa adegan dengan beberapa penyesu-aian. Auditorium Teater ditata laya-knya rumah sederhana. Beberapa perabot rumah tangga menghiasi panggung pementasan ini.Perubahan paling mencolok adalah naskah yang lebih ringan. Salim me-mandang naskah sastra adalah rang-kaian kata yang indah. Sayangnya naskah sastra kurang cocok diterap-kan dalam dunia panggung. Sehing-ga dengan berani dirinya mengubah beberapa naskah kalimat.”Naskah karya sastra enaknya untuk dibaca, bukan dipentaskan.
Sastra memikirkan diksi dan pola, sedang panggung tidak. Kalau dialog puitis sekali nanti jadinya wagu, sehingga disesuaikan,” katanya.Lalu ada penokohan peran ber-nama Adibul yang diganti profesinya. Dalam naskah asli Motingo Busye Adibul berprofesi sebagai kusir Sado. Dalam garapan Salim, Adibul dipro-fesikan sebagai seorang akuntan. Perubahan ini, untuk mengikuti dina-mika zaman. Sosok akuntan, menurut-nya, lebih pas sebagai tokoh di era saat ini.
Sedangkan kusir Sado merupakan profesi yang tidak semua orang tahu. Meski begitu Salim tidak serta merta merubah alur pementasan aslinya.”Kusir Sado sudah tidak dekat dengan kehidupan saat ini. Alkhirnya diganti dengan akuntan, tapi tidak lari dari naskah aslinya. Tujuan pergeseran ini karena sasaran pertunjukan untuk masyarkat masa kini. Jika dihadirkan setting lampau tidak nyambung karena penonton tidak hadir di masa lampau,” ungkapnya.
Pementasan Barabah ini merupakan serangkaian Gelar Teater Realis 2015. Selain Salim, masih ada empat sutra-dara dari jurusan teater ISI Jogjakarta yang akan unjuk karya. Hari ini (6/1) tampil naskah Bapak karya B. Soelarto yang disutradarai oleh Berti Galang.Ada pula naskah Beruang Penagih Hutang karya Anton Chekov saduran Landung Simatupang yang disutra-darai oleh Vieoletta Estrella (8/1). Rami dan Cangkir Pecah dar i cerpen The Clod karya Lewis Beach disutradarai Gandung Siyamsyah (10/1) dan ditutup dengan naskah karya Kirdjomuljo yang berjudul Sepasang Mata Indah dengan sutradara dari Daniel Raja Ksatria Naing-golan (11/1). (dwi/laz/ong)