DWI AGUS/RADAR JOGJA
PERDANA: Karya seni para mahasiswa Prodi Tata Kelola Seni Fakultas Seni Rupa ISI Jogjakarta, kemarin (5/1). Pameran yang berlangsung di Lobi Rektorat lama ISI Jogjakarta ini merupakan yang pertama kali sejak jurusan baru ini dibuka.

Hadirkan Bentuk Desain Sesuai Ilmu yang Didapat Selama Perkuliahan

JOGJA – Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta memiliki program studi baru, Tata Kelola Seni. Disiplin ilmu ini berada di bawah naung-an Fakultas Seni Rupa ISI Jogja-karta. Sebagai penanda prodi baru tersebut, digelar pameran bertajuk Tata Artitsik #1 Nirmana. Rektor ISI Jogjakarta Agus Burhan menyambut baik pameran ini.
Meski masih terbilang baru, prodi ini memiliki potensi. Tidak hanya dalam bidang seni, tapi bagaimana pengelolaan manajemen seni. “Dalam dunia seni, biasanya lebih terpesona pada seniman dan karyanya. Padahal dunia seni ini lebih kompleks dan luas. Ada faktor pendukung, seperti kurator dan manajemen seni itu sendiri,” katanya dalam pembu-kaan pameran di Lobi Rektorat lama ISI Jogjakarta, kemarin (5/1).
Menurutnya, dunia seni ke-nyataannya sangat kolektif dan beragam. Keragaman hadir untuk saling melengkapi. Sehingga tidak mungkin seorang seniman atau karya dapat berdiri sendiri. Program Studi Tata Kelola Seni ini fokus pada manajemen seni. Di mana dalam mengusung se-buah karya, butuh manajemen yang apik. Baik dalam pameran, hingga publikasi kepada khalayak. “Program ini awalnya hanya ada di Pascasarjana ISI Jogja-karta. Tapi kami sadar bahwa ini seharusnya berjenjang. Bahkan ada kemungkinan kami kembang-kan dalam strata tiga,” kata Agus.
Kepala Prodi Tata Kelola Seni Sujud Dartanto mengungkapkan, pameran ini merupakan tonggak. Karena pameran merupakan pro-duk perdana prodi Tata Kelola Seni. “Bisa dibilang, pameran ini merupakan plat awal arah kreasi para mahasiswa,” ujarnya.
Dalam pameran awal ini, para peserta merupakan mahasiswa semester 1. Sebanyak 35 mahais-wa menghadirkan karya Tata Artistik dua dimensi. Bentuk-bentuk desain dihadirkan sesuai ilmu yang didapatkan selama perkuliahan. “Mata kuliah Tata Artistik 1 berkaitan dengan kompetensi menjadi pengelola seni, budaya dan wisata. Ke depan juga ada pameran Tata Artistik 2 yang bentuknya sudah tiga dimensi,” kata Sujud.
Sementara itu, dosen prodi Tata Kelola Seni Mikke Susanto mengajak para mahasiswa ber-pikir tentang tata artistik. Tata artistik ini lalu diimplementa-sikan ke dalam karya. Para ma-hasiswa ditantang berkreasi dalam media apapun.
Dalam pameran ini media yang digunakan adalah cat air dan cat poster dalam kertas. Ukuran-nya cukup kecil, hanya 22cm X 22 cm. Sehingga perlu daya kreativitas yang tinggi, namun tetap artistik seni. “Intinya berdialog tata artistik itu sebagai apa. Konsep mengenal warna gradasi dan nuansa warna, lalu tentang tekstur. Pemilihan me-dia yang kecil agar mahasiswa dapat berorientasi dalam media apapun,” kata Mikke. (dwi/jko/ong)