Kasus Korupsi Pupuk Bersubsidi

JOGJA – Lama tak ada kabar, tim penyidik kasus dugaan korupsi pupuk bersubsidi memasuki babak baru. Februari mendatang, penyi-dik Kejati DIJ akan menyerahkan berkas, alat bukti berikut tersang-ka Edi Sumarno kepada jaksa penuntut. Tahap kedua ini dila-kukan setelah Agustus 2014 jaksa menyatakan berkas perkara ini dinyatakan lengkap atau P-21.”Rencananya pertengahan Februari nanti berkas perkara dugaan korupsi pupuk bersub-sidi akan dilimpahkan ke jaksa penuntut atau tahap dua,” kata Asisten Pidana Khusus (Aspid-sus) Kejati DIJ Azwar kemarin.
Azwar menerangkan, penyidik belum bisa melakukan tahap 2 karena ada masalah. Kendala itu muncul karena tersangka Edi Su-marno jatuh sakit dan tak kunjung sembuh. Bahkan, tersangka sempat menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Jogja hingga akhirnya menjalani rawat jalan. “Sejujurnya kami tidak ingin perkara ini berlarut-larut. Kami ingi perkara ini segera disidangkan,” jelasnya.
Jika sesuai rencana, maka perkara yang merugikan keu-angan negara Rp 800 juta ini akan mulai disidangkan pada Maret mendatang. Setelah tahap 2, jaksa kemudian menyusun rencana dakwaan (rendak). “Mudah-mudahan nanti tersangka bisa hadir ke kejati untuk proses ta-hap 2,” harapnya.Penasihat Hukum Edi Sumar-no, Yusron Rusdiyana mengata-kan, pemeriksaan kliennya me-mang sudah selesai dan jaksa telah menyatakan berkas lengkap. Disinggung mengenai lambannya penyidikan dan proses tahap 2, Yusron meminta penyidik dapat memahami kondisi kesehatan kliennya. “Bagaimana lagi, kon-disi beliau (Edi Sumarno) memang demikian,” kata Yusron.
Seperti diketahui, pada 2012 perkara dugaan korupsi pupuk subsidi ini sempat dihentikan atau SP3 oleh Kejati DIJ semasa kepimpinan Ali Munthohar SH. Alasannya, tersangka Edi Su-marno telah meninggal dunia. Belakangan diketahui surat ke-matian atas nama Edi Sumarno palsu. Hal itu terungkap saat kepimpinan Suyadi SH pada Oktober 2013. Kemudian Suya-di mengeluarkan sprindik baru atas perkara itu. (mar/laz/ong)