SETIAKY/RADAR JOGJA
SELAMATKAN UANG NEGARA: Kajati DIJ Loeke Larasati SH didampingi para asisten saat konferensi pers di kantornya, kemarin (6/1).

Dari Pidana Korupsi, Umum, dan Perdata

grafis-kajati
JOGJA – Kinerja Kejati DIJ patut diapresiasi. Selama 2014, lem-baga adhiyaksa yang berkantor di Jalan Sukonandi, Jogja, ini mengklaim berhasil meng-upayakan penyelematan uang negara sebesar Rp 25,21 miliar. Uang itu diselamatkan para jaksa yang bertugas di tiga divisi yaitu pidana khusus, umum serta per-data dan tata usaha negara
Rinciannya, pidana umum sebanyak Rp 6 miliar, tindak pidana khusus yaitu korupsi sebesar Rp 12,6 miliar, serta ka-sus perdata dan tata usaha se-besar Rp 6,12 miliar. “Sebagian besar uang yang diselamatkan kejaksaan berasal dari tindak pidana korupsi,” kata Kepala Kejati DIJ Loeke Larasati SH dalam konferensi pers di kan-tornya, kemarin (6/1).
Dalam kesempatan ini, Loeke didampingi Asisten Pidana Khu-sus Azwar SH, Asisten Intelijen Kejati DIJ Joko Purwanto SH, Asisten Pidana Umum Tri Subar-diman, dan Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) Yulianita SH. Selain tindak pi-dana korupsi, uang itu diaman-kan dari pengemplang pajak dan bukan pajak.
Salah satu yang pernah di-tangani jaksa Asdatun adalah uang denda kasus perkara pajak dan penarikan uang tunggakan pada BUMN PT Permodalan Nasional Madani (PNM) DIJ. “Kejati juga melayani bantuan hukum bagi masyarakat kurang mampu. Pendampingan ini un-tuk kasus pidana umum, per-data, dan lain sebagainya,” terang Loeke.
Aspidsus Kejati DIJ Azwar SH mengatakan, jaksa yang bertugas mengusut dugaan perkara ko-rupsi sudah bekerja maksimal. Hasilnya, selama 2014 berhasil mengupayakan penyelamatan keuangan negara Rp 12,6 miliar. Uang itu diselamatkan dari ber-bagai kasus oleh kejati dan ke-jari di kabupaten/kota se-DIJ.Rinciannya, kejati berhasil me-nye lamatkan Rp 11,09 miliar, Kejari Jogja Rp 47,5 juta, Kejari Sleman Rp 1,25 miliar, Kejari Bantul Rp 217,4 juta, dan Kejari Wonosari Rp 82,8 juta. Sedang-kan untuk Kejari Wates belum ada laporan. “Nilai ini berasal da ri dugaan korupsi penjualan aset tanah milik UGM yaitu Rp 10,5 miliar,” kata Azwar.
Azwar berpendapat, pengem-balian uang dana hibah oleh Per-siba ke Pemkab Bantul tidak ter-masuk sebagai upaya penyelama-tan. Sebab, pengembalian Rp 12,5 miliar tidak melalui kejaksaan, melainkan oleh tersangka Idham Samawi langsung ke kas daerah Pemkab Bantul. Disinggung mengenai per-kembangan penanganan Per-siba, Azwar menegaskan, tim penyidik masih terus melakukan penyidikan untuk kelengkapan berkas atas nama tersangka Mar-yani dan Dahono. “Mudah-mudahan akhir Januari ini sudah bisa dilimpahkan ke pengadilan,” jelasnya.
Asisten Intelijen Kejati DIJ Joko Purwanto mengatakan, selama 2014 kejati sudah mela-kukan pencegahan ke luar ne-geri kepada 10 tersangka. Me-reka terdiri atas tujuh tersangka kasus korupsi, dan tiga tersang-ka kasus perpajakan. Tersangka korupsi yang dicekal adalah Edy Bowo dan Idham Samawi dalam kasus Persiba Bantul; Nanang Iswandi dalam kasus PLN; dan empat tersang-ka kasus korupsi penjualan aset tanah UGM yaitu, Susamto, Tri-yanto, Ken Suratiyah, dan Toe-kidjo. Sedangkan tiga tersangka kasus perpajakan yaitu Lin Hadi, Elex Setyanto, dan Endang Dartini ju-ga dicegah keluar negeri. “Kami juga berhasil menangkap empat buron kejaksaan daerah lain yang lari dan bersembunyi di Jogja,” kata Joko. (mar/laz/ong)