FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BIKIN SEMRAWUT:Pedagang di ruas Jalan Pasar Tarumanegara dianggap biang macet jalan menuju Pasar Pasar Rejowinangun.
MAGELANG-Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kotra Magelang akan merelokasi 320 pedagang di Pasar Tarumanegara ke Pasar Rejo-winangun. Rencana ini menyusul bakal adanya pengembangan Pasar Rejowinangun pada tahun ini, di mana akan menelan biaya Rp 5,977 miliar dari APBD.
Pengembangan ini juga untuk menampung 3 ribu pedagang lesehan yang saat ini menempati kawasan parkir Pasar Rejo wina-ngun.”Selain pedagang di Tarumane-gara, nantinya pengembangan ini juga dialokasikan untuk menam-pung para pedagang lesehan yang selama ini menempati kawasan parkir Pasar Rejowinangun de ngan jumlah mencapai 3.000-an pe-dagang,” kata Kepala DPP Kota Magelang Joko Budiono, kemarin (6/1)
Pembuatan los bagi pedagang lesehan ini dalam rangka mem-bersihkan lahan parkir. Adanya para pedagang yang jumlahnya ribuan tersebut, kapasitas jalan di pasar yang terbakar pada 26 Juni 2008 menjadi berkurang. Dampak lainnya, lalu lintas men-jadi semrawut.”Nah, untuk mencukupinya, harus ada penambahan area. Nanti sekalian dengan pedagang dari Tarumanegara supaya di-jadikan satu di lantai dua Pasar Rejowinangun,” ungkapnya.
Dijelaskan, rencana peminda-han pedagang Pasar Tarumane-gara hanya berlaku bagi pedagang di bagian tengah. Sedangkan mereka yang menempati kios-kios di sekitar pasar dan jalan Tarumanegara tidak ikut di-relokasi.”Kami lihat kondisinya tidak layak. Terpal-terpalnya sudah banyak yang rusak dan banyak pedagang-pedagang lesehan yang melebar ke jalan,” paparnya.
Joko menyakini, setelah peda-gang bersatu pada satu area, keramaian pasar akan terdong-krak. Sampai saat ini, ia menga-kui sepinya Pasar Rejowinangun yang dikeluhkan pedagang, karena pembeli tidak terfokus pada satu pasar.”Harapan kami, itu tidak hanya keramaian pasar, tapi juga ber-harap pasar itu dapat mencu-kupi kebutuhan sehari-hari para pedagang. Kemudian, tar-getnya bisa untuk pasar kulakan. Pasar Tarumanegara akan di-kembalikan fungsinya menjadi jalan sebagai akses menuju pasar Rejowinangun,” tegasnya.
Joko mengakui, keberadaan pedagang di Pasar Tarumane-gara menjadi persoalan tersen-diri. “Kurang pas jika ada Pasar Rejowinangun kok ada Pasar Tarumanegara yang jaraknya berdekatan,” lanjutnya.Mini, 48, pedagang Pasar Tarumanegara mengakui ia dan ratusan pedagang di Pasar Tarumanegara sering dianggap sebagai persoalan.”Pasar Rejowinangun sudah dibangun bagus, tetapi pem belinya berkurang alias masih sepi. Banyak pembeli yang lebih senang ke sini (Tarumanegara) karena akses-nya mudah. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi sudah komplit. Nah, pedagang sini disebut-sebut sebagai faktor sepinya pasar sana (Rejowinangun),” ungkap-nya. (dem/hes/ong)