DWI AGUS/RADAR JOGJA
UNJUK DIRI: Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari pamerkan karyanya bertajuk Selfie Zone di Kersan Art Studio, Bantul.
BANTUL – Duet karya disajikan oleh Anjani imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari. Keduanya hadir dalam pame-ran bertajuk Selfie Zone yang digelar di Kersan Art Studio, Bantul. Pameran yang menyajikan puluhan karya ini diseleng-garakan hingga 13 Januari mendatang.
Citra mengungkapkan, pameran ini merupakan wahana unjuk diri dan karya. Dalam pamerannya kali ini Citra mengha-dirkan bentuk-bentuk abstrak. Media yang digunakan adalah cat akrilik dan kanvas. Selain itu dirinya juga melakukan eksplo-rasi dengan media campuran lainnya.”Selain eksplorasi media, juga pe-ngembangan teknik lukisannya. Misalkan dengan lelehan, semprot, tarik, dan torehan sapuan. Alat yang digunakan mulai dari palet, sprayer, sikat gigi, tali hingga kuas,” kata Citra kemarin (6/1).
Mahasiswi Seni Murni ISI Jogjakarta ini mengungkapkan alasan teknik yang digunakan. Pertama karena sifatnya eks-plorasi, maka dilakukan dengan cara yang out of the box. Selain itu untuk meng-hidupkan sisi abstrak, Citra pun memilih cara yang tidak biasa.Upaya ekspresif ini, lanjutnya, dirasa lebih pas untuk berkarya. Karena sesuai dengan tema pameran karya yang dihasilkan merupakan zona diri sendiri.
Tidak hanya sebagai jati diri secara sosial, namun juga ciri khas dalam menghasilkan sebuah karya seni. Karya yang dihadirkan olehnya pun ber-cerita tentang aktivitas hariannya. Ter utama dalam pengolahan rasa dan pemaknaan peristiwa. Seperti dalam dua karyanya yang berjudul A Week dan Satu Waktu. Kedua karya ini mengemas titik jenuh dan kebosanan dalam salah satu fase kehi-dupannya.”Benar-benar menggambarkan apa yang dirasakan dalam lingkungan. Tidak hanya titik jenuh, perasaan gembira, introspeksi, harapan juga hadir. Tentunya dengan gam-baran sesuai ciri khas seni,” katanya.
Sementara Arce memilih hadir dengan media kertas. Untuk mengimbangi kertas, dirinya memilih tinta bak, pewarna batik, tinta spidol, tinta emas dan tinta perak. Keduanya dikombinasikan dalam objek berupa ular, anjing, daun, pohon, gedung-gedung dan manusia.Melalui karyanya ini Arce ingin ber cerita bahwa manusia tidaklah sendiri. Dalam kehidupan ada kehidupan sosial antar-manusia, juga keselarasan dengan alam. Interaksi ini dapat melahirkan ragam-ragam pemikiran, bahkan keindahan dalam seni.”Kita semua saling terkait antara ma nusia maupun alam. Jadi melalui ini ingin meng-gabarkan bagaimana bentuk hubungan ini. Terutama dalam melihat diri sendiri dalam lingkup social maupun alam,” katanya.
Kurator pameran Opee Wardany mengungkapkan pameran ini memiliki tiga makna. Pertama, mengenai hal-hal yang ada dan dieksplorasi pada dan oleh diri. Kedua bagaimana penentuan batas-batas oleh diri sendiri, dan terakhir penga-kuan pihak luar atas batasan wilayah diri.
Opee menambahkan, batasan-batasan ini ditentukan berdasarkan pengalaman diri. Penentuan batas-batas dapat di nyatakan secara eksplisit maupun implisit. Batasan yang terdiri dari sudut pandang diri sen-diri, pengakuan pihak luar atas batasan diri terjadi dan area atau ruang ekplorasi diri yang telah dibatasi ini menjadi wilayah diri.”Hal-hal yang dieksplorasi pada dan oleh diri merupakan ringkasan atas berbagai hal yang hadir serta diolah secara luas oleh diri sendiri. Dapat berupa cerita, perasaan dan pemikiran, pandangan akan masa mendatang, kondisi serta lingkungan di sekitar diri,” tandasnya. (dwi/laz/ong)