JOGJA – Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ nam-paknya tak mau gegabah dalam menuntaskan perkara dugaan korupsi pengadaan pergola tahun 2013 di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja. Saat ini, tim penyidik sedang fokus merampung-kan berkas acara pe meriksaan (BAP) un tuk tiga tersangka yaitu Irfan Susilo, Sur yadi, dan Hendi. Se hingga, belum ada rencana untuk me-nelisik kemungkinan ada keterlibatan ang-gota DPRD Kota Jogja.”Selama penyeli-dikan, kami belum menemukan adanya bukti keterlibatan oknum anggota dewan. Kami fokuskan dulu ke tiga tersangka ini,” kata Asisten Pidana Khusus Ke-jati DIJ Azwar kemarin
Namun demikian, lanjut Azwar, tidak tertutup kemungkinan dalam proses penyidikan dan penuntutan di persidangan nanti terkuak adanya keterliba-tan pihak lain seperti anggota dewan. Sebab, saat ini tim penyi-dik masih terus melakukan pro-ses pemeriksaan terhadap ter-sangka dan saksi. Penyidik kembali mengumpul-kan alat bukti mengenai adanya kekurangan volume pekerjaan dan pekerjaan pergola yang tidak sesuai spek. “Jika nanti ada alat bukti keterlibatan anggota dewan, tentu kami akan kembangkan. Apakah ada kongkalikong saat proses penganggaran. Jika ada, kami tak akan pandang bulu. Siapa pun yang terlibat, harus dimintai pertanggungjawaban,” tegas mantan Kajari Slawi ini.
Disinggung mengenai nilai ke-rugian Negara, Azwar menerang-kan, tim penyidik belum bisa memastikan berapa nilai keru-giannya. Sebab, tim penyidik masih menelusuri seluruh pe-kerjaan pergola kemudian men-ghitungnya. Namun demikian, untuk sementara tim penyidik memperkirakan nilai kerugian negara mencapai Rp 700 juta. “Perhitungan kerugian negara hampir rampung,” jelas Azwar.
Koordinator Divisi Pengaduan Masyarakat Jogja Corruption Watch (JCW) Baharudin Kamba meminta kejati tidak sekadar berhenti pada tiga tersangka. Sebab, ada dugaan keterlibatan pihak lain seperti oknum ang-gota dewan yang membidangi proyek tersebut. Hal itu dapat dilihat dari proses lelang pengadaan proyek Pergola.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja sebagai instansi yang memiliki program sengaja membagi proyek pergola hingga puluhan paket pekerjaan. Dari total nilai proyek Rp 5,3 miliar, hanya Rp 1 miliar yang dilelang secara terbuka, sisanya dipecah dan dilakukan penunjukan langsung dengan nilai proyek di bawah Rp 200 juta dengan melibatkan sekitar 30 rekanan.”Mustahil bila tidak ada kong-kalikong. Kejaksaan harus me-nelusuri siapa saja aktor yang terlibat dan menyarankan ada-nya penunjukan langsung,” desak Baharudin.
Saat ini, ada tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh kejati. Mereka adalah Ke-pala BLH Jogja Irfan Susilo, Pe-jabat Pembuat Komitmen (PPK) Suryadi, dan Hendi selaku re-kanan. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka pada 12 De-sember 2014. Diduga kuat, ter-sangka Hendi memiliki hubung-an kerabat dengan oknum ang-gota DPRD Kota Jogja saat itu. (mar/laz/ong)