DWI AGUS/RADAR JOGJA
SESUAI ASLI: Lakon Bapak saat dipentaskan di Auditorium Teater ISI Jogjakarta (6/1).
BANTUL – Pergejolakan yang terjadi saat agresi militer II Be-landa di Jogjakarta mampu di-angkat dalam panggung teater. Inilah yang dilakukan Berti Dwi Galang Febrianta dalam pemen-tasan teater dengan lakon Bapak. Lakon ini dipentaskan di Audi-torium Teater ISI Jogjakarta, Selasa malam (6/1).Galang secara apik menampilkan naskah ini sesuai aslinya. Naskah Bapak sendiri merupakan karya dari B. Soelarto.
Naskah ini ber-latar belakang kondisi saat Be-landa menyerang Jogjakarta pada 1949 dalam Agresi Militer II.”Tertarik menggarap naskah ini karena memiliki pesan pen-ting. Terutama dalam menjaga dan memaknai sebuah kemer-dekaan,” kata pria kelahiran Jombang 4 Februari 1994 ini.
Melalui naskah ini dirinya menga-jak para generasi penerus berpi-kir kritis, di mana untuk menjaga sebuah kemerdekaan tidaklah mudah. Bahkan halangan justru bisa datang dari orang terdekat sendiri. Musuh dalam selimut ini lah yang perlu diwaspadai.Dikisahkan dalam naskah anak sulung sang bapak justru jadi antek Belanda. Si Sulung mem-berikan berbagai info tentang Jogjakarta. Mulai dari titik kele-mahan hingga tempat strategis untuk menyerang. Dalam lakon ini pun digambarkan perdebatan sengit di antara keduanya.
Hingga dalam satu adegan di-gambarkan sang bapak mem-bunuh sulung. Meski menyesal, dirinya berdalih untuk menjaga nasionalisme. Apa pun akan dilakukan meski harus berhada-pan dengan anaknya sendiri.”Semacam ajakan juga agar kita benar-benar peduli terhadap nasionalisme Indonesisa. Ben-tuk penghinatan ini bisa saja ada rasa tidak puas. Sehingga bisa diibaratkan belum memerde-kakan dirinya sendiri,” katanya.
Dalam naskah ini setiap lakon memang tidak memiliki nama panggilan. Tokoh bapak diperan-kan Emanuel kristanto dan sulung diperankan Akas Jatmiko. Ada pula bungsu oleh Melani Sume-lang dan perwira oleh Alfath.Dalam membawakan naskah ini Galang tidak merubah sedi-kit pun naskah. Sehingga naskah yang dihadirkan asli sesuai pe-nulisan B. Soelarto.
Sulung di-gambarkan sebagai anak yang telah lama hilang. Ternyata ke-pergiannya ini adalah menjadi mata-mata bagi Belanda.”Sang penulis naskah Solearto mengibaratkan pengkhianatan dapat dilakukan siapa saja. Se-hingga memang tidak ada nama untuk setiap tokohnya. Rasa na-sionalisme yang terkikis digam-barkan dengan perdebatan keras antara bapak dan sulung,” kata-nya.Dipilihnya naskah ini karena Galang juga merupakan kelu-arga militer. Almarhum kakeknya merupakan pejuang dan pen-jaga kemerdekaan. (dwi/laz/ong)