YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
KRIMINAL: Sebagian anggota geng motor pelajar GGST yang ditangkap setelah menganiaya pelajar lain.

Aniaya dan Merusak Warung, Status Pelajar SMA dan SMP

SLEMAN – Kenakalan remaja di Sleman sulit dibendung. Ka-sus tawuran antarpelajar kem-bali terjadi. Ironisnya, para pe-laku kali ini juga tergabung da-lam geng motor. Mereka mena-makan diri Gito Gati Street Teror (GGST). Kini, 22 anggota geng yang sebagian besar berstatus pelajar di salah satu SMA di Seyegan itu harus mempertanggungjawab-kan ulah mereka
Dua di antaranya masih SMP. Ironisnya, sebagian adalah anak aparat kepolisian, TNI, dan guru.Polisi menjerat mereka dengan pasal berlapis. Yakni Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan, UU Darurat,dan Pasal 80 UU No 35 Tahun 2014 tentang Per-lindungan Anak. Tiga pasal itu dikenakan kepada tiga tersang-ka utama, Bg dan Dn yang di-duga membawa senjata tajam, sekaligus pelaku penganiayaan terhadap korban berinisial NSS,17. Korbannya adalah pe-lajar di sebuah SMA di Tempel yang dianggap sebagai lawan dari GGST.
Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain mengatakan, korban dipukul dengan benda tumpul dan dibacok dengan senjata tajam pada bagian kepala hingga tak sadarkan diri. “Satu tersangka masih buron. Kami sudah kan-togi identitasnya,” ujar Faried di Mapolres Sleman, kemarin (7/1).
Para tersangka selanjutnya di-tahan dengan status titipan di Lembaga Perlindungan Anak DIJ. Barang bukti yang disita berupa empat bilah pedang samurai, empat gir sepeda motor bertali, dan sebuah botol kaca.Kapolres yang baru sehari men-jabat ini memaparkan, penangka-pan para tersangka berawal da-ri pengembangan penyelidikan kasus penganiayaan terhadap NSS.
Dari situ polisi mencium ge lagat adanya rencana pe nye-rangan oleh GGST ke sebuah sekolah di Tempel. “Dari ejek-ejekan, saling tan-tang, anggota geng ini lantas me lakukan penyerangan. Sebe-lumnya, mereka menganiaya kor ban yang sedang nongkrong,” ka tanya.
Tindak lanjut atas pe-nanganan kasus ini, polisi akan melibatkan para guru dan orang tua tersangka.Fs,16, seorang tersangka menga-ku kelompoknya tersinggung lan taran ditantang lebih dulu oleh kelompok pelajar lawannya. “Ditantang dulu, lalu kami ke sana. Mereka sudah siap. Janjian dulu sebelum berangkat ke lo-kasi,” bebernya. Saat beraksi, para tersangka menggunakan penutup muka. Mereka menyerang pelajar yang sedang nongkrong di warung karena dianggap sebagai lawan. Para tersangka juga merusak warung yang dipakai untuk nong-krong itu. (yog/laz/ong)