DWI AGUS/RADAR JOGJA
PIRINGAN HITAM: Bagi Nirmana Records, dunia rekaman adalah suatu hal yang sakral. Kemasan dan hasil yang sempurna menjadikan karya lebih indah untuk didengarkan.

Kesan Eksklusif, Nilai Visual Lebih Artistik

Fase perkembangan musik terus mengalami dinamika perubahan. Mulai piringan hitam, kaset, CD audio hingga era digital musik. Era piringan hitam pun saat ini kembali bangkit dan mulai menjadi tren. Ini ditandai dengan usaha yang dilakukan salah satu label rekaman di Jogjakarta, Nirmana Records.
DWI AGUS, Jogja
DUNIA rekaman musik di Indonesia te-rus mengalami perkembangan. Bagi Nir-mana Records, dunia rekaman adalah suatu hal yang sakral. Dengan kemasan dan hasil yang sempurna, membuat karya lebih indah untuk didengarkan. Inilah yang mengilhami untuk kembali pada dunia piringan hitam vinyl.
Nirmana Records sendiri adalah sebuah label rekaman baru dari Jogjakarta. Ide ber-beda pun disajikan oleh label ini dalam merilis album musik. Label ini lebih memi-lih produksi album dalam format piringan hitam. Sebuah ide lawas, namun merupakan gebrakan dalam dunia musik di Jogjakarta. “Misi utamanya adalah untuk mendoku-mentasikan karya musik berkualitas dari Jogjakarta. Format piringan hitam memang bukan suatu hal yang baru. Tapi dengan format ini, ada kesan eksklusif dan memi-liki nilai visual yang artistik,” kata penggagas label Uji Handoko (7/1).
Ditemui di Ace House Mangkuyudan Jog-jakarta, pria ini menjelaskan secara runut tentang piringan hitam. Menurutnya, kua-litas piringan hitam bisa dibilang paling baik di antara media rekaman lainnya. Ha-sil rekaman lebih jernih dan tidak terlalu mengalami kompresi.Berbeda dengan media rekaman lain yang memerlukan kompresi besar
Musik yang dikompresi berim-bas pada kualitas suara yang dihasilkan. Bisa jadi ada bebe-rapa instrumen musik yang hi-lang atau tertutup.”Kekuatan ada pada kedetailan suara yang dihasilkan. Berbeda dengan kaset atau CD audio, masih ada beberapa yang hilang. Piringan hitam sangat memun-gkinkan untuk meminimalisasi kompresi pada musik,” kata pria yang akrab disapa Hahan ini.
Untuk menghasilkan rilisan dalam piringan hitam, perlu penggarapan matang. Bahkan musik yang sudah jadi pun harus di-mixing ulang. Tujuan-nya, menyesuaikan frekeunsi musik dalam bentuk piringan hitam.Mixing ulang perlu dilakukan karena piringan hitam dibuat dengan teknik pressing. Sebongkah vinyl mentah diletakkan dalam mesin press. Dalam mesin ini ada dua pelat yang me-nampung data musik. Kedua pelat inilah yang kemudian me-nempelkan data musik ke dalam piringan hitam. “Semua data musik yang kita terima terlebih dahulu kita mixing ulang. Setelah matang lalu kita kirimkan ke perusahaan pembuat piringan hitam di Ame-rika Serikat. Ini karena di Indo-nesia memang belum ada pro-duksi piringan hitam,” katanya.
Hahan menambahkan, selain Amerika ada pula perusahaan di Jerman dan Ceko. Dari seluruh perusahaan pembuat piringan hitam, hanya ketiga perusahaan inilah yang berkualitas. Harga yang ditawarkan pun jauh dari angka produksi kaset maupun CD audio.”Sebenarnya ada di Tiongkok, tapi dari segi kualitas sangat biasa. Bedanya dari segi bahan yang menggunakan plastik PVC, sedangkan di Amerika meng-gunakan bahan Vinyl,” imbuhnya.
Pada fase perdana, Nirmana Records fokus untuk merilis ulang album rekaman musik. Album yang dipilih memiliki karakter unik dan berpengaruh. Fase se-lanjutnya menggunakan sistem kuratorial dalam bidang seni.Hahan mengungkapkan, sistem ini menitikberatkan pada pa-duan karya seni suara dan seni rupa. Tercermin dari kemasan album yang memiliki nilai art. Sehingga nilai seni dalam album tidak hanya music, namun juga kemasannya.Penggiat lainnya, Uma Gumma, menilai seni patut dikedepankan.
Sebagai seniman yang tinggal di Jogjakarta wajib mengusung nilai seni dan budaya. Musik pun dapat bersanding apik dengan disiplin ilmu lain. Inilah mengapa kemasan yang berbeda coba dihadirkan dalam format piringan hitam ini.”Seni musik dan seni rupa tum-buh bersama dan saling bertau-tan satu sama lain. Hubungan keduanya tak hanya terjalin pada bentuk kerja sama yang sederhana. Seperti aspek visual pada sampul album musik,” kata Uma.
Uma mengungkapkan, seni musik dan seni rupa memiliki keterkaitan. Tidak sedikit pe rupa yang bekerja menggunakan me-dium audio. Para musisi juga menggunakan aspek-aspek vi-sual dalam konsep citra dalam karya musiknya.Hal ini memicu terciptanya karya seni yang unik dan eks-perimentatif. Seluruh rilisan rencananya juga didesain se-cara eksklusif. Konsep ekslusif ini mencakup kemasan maupun materi audionya.”Itulah mengapa piriringan hitam dipilih karena mampu menampung kualitas suara ter-baik dan memiliki karakter su-ara unik. Ukurannya yang cukup besar juga memberi peluang pada penciptaan kemasan visual dengan sensasi yang ber-beda,” katanya.
Uma pun mengamini kendala rilis album ini adalah alat pemu-tarnya. Untuk mengatisipasi hal ini, ia bersama tim telah menyi-apkan sebuah strategi khusus. Tiap album yang dirilis akan di-sertai file digital yang bisa diakses melalui kupon unduh gratis.Dengan demikian album itu bisa didengarkan di pemutar musik digital di mana saja. Ke-masan pun akan dibuat layaknya box set dan memiliki nomor seri. Pemberian nomor seri ini untuk memberikan kesan ekslu-sifitas atas album yang dibeli.”Untuk harga bisa berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu, tergantung musisinya.
Untuk saat ini kita sedang menggandeng salah satu band pop Jogjakarta. Rencananya akan rilis Februari mendatang dengan kemasan box set tentunya,” ungkapnya.Selain Uji Handoko dan Uma Gumma, juga melibatkan Adi Adriandi selaki manajer band. Ada pula Wok the Rock yang terkenal sebagai seniman dan aktif di Ruang MES 56 dan Yes No Wave Music. (*/laz/ong)