YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
GANGGU KESEHATAN: Sejumlah pekerja sedang membersihkan sampah yang dibuang warga di Selokan Mataram.
SLEMAN- Baru seminggu dilantik, tugas berat harus ditanggung Purwanto selaku kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman. Penanganan sampah menjadi masalah utama yang harus dia pecahkan. Dua hari menjadi orang nomor satu di BLH, Purwanto mendapat telepon dari warga Condongcatur, Depok yang melaporkan banyaknya timbunan sampah di Embung Tambakboyo.
Kemarin (8/1), Purwanto mendapati fakta lebih mengejutkan. Timbunan sampah di Selokan Mataram, di Desa Selomartani, Kalasan melebihi ambang batas kewajaran. Apalagi, sungai tersebut merupakan saluran irigasi untuk lahan pertanian di wilayah Kalasan dan Prambanan. “Ini harus dikeruk karena sudah mencemari lingkungan,” ujar Purwanto yang terjun langsung memimpin proses pembersihan selokan.
Sampah yang mengalir di permukaan air lebih banyak berupa sisa kotoran rumah tangga. Bahkan, limbah sisa sabun dan buangan minyak atau oli menjadi biang pencemar air dan pemicu bau tidak sedap. Saking banyaknya sampah, aliran irigasi menjadi dangkal, sehingga harus dikeruk secara manual. “Kalau tidak dikeruk akan menumpuk. Dan jika air meluap sampahnya masuk sungai,” jelas Suparno, Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air I Balai Besar Wilayah Sungai Serayu dan Opak.
Suparno mengatakan, pengerukan sampah tidak bisa menuntaskan persoalan yang terjadi di Selokan Mataram. Menurutnya, penanggulangan sampah harus melibatkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat dan swasta. “Ini (pengerukan) hanya bentuk pemeliharaan saja,” lanjutnya.
Petugas Kantor Pengawas Selokan Mataram II Hari Subandriyo menuturkan, pembersihan Selokan Mataram dilakukan rutin hampir setiap hari. Tetapi, langkah itu tidak bisa meminimalisasi volume sampah yang mengalir di lokasi tersebut. Bahkan, makin hari kian bertambah. “Dibersihkan setiap hari sampah tidak habis-habis,” keluhnya.
Semakin ke timur (hilir) volume sampah bertambah banyak. Terlebih saat musim hujan. Sampah terbawa arus hingga memenuhi aliran di hulu. Menurut Hari, sampah tersebut justru bukan dari warga setempat, tetapi dari warga luar wilayah. Umumnya mereka membuang sampah dibungkus kantung plastik dengan cara dilempar sambil mengendarai sepeda motor. “Bahkan dari laporan warga ada yang buang sampah pakai gerobag atau mobil pikap,” bebernya. (yog/din/ong)