AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
GAGAS JAMU KHAS JOGJA: (Dari kiri) Ketua DPD Asosiasi Spa Terapis Indonesia (ASTI) DIJ Lastiani Warih Wulandari, Wakil Dekan Fakultas Farmasi UAD Nining Sugihartini, dan penggagas tim 11 sekaligus dosen Farmasi UAD Kintoko dalam seminar di Hotel Royal Ambarrukmo Rabu (7/1).

Libatkan Sebelas Institusi Lokal

JOGJA – Tersingkirnya jamu dan spa tradisional di tengah ma-syarakat, membuat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) prihatin. Sebagai bentuk kepedulian, UAD menggagas penemuan, produksi, dan penggunaan jamu serta spa tradisional khas Jogja. Sebagai langkah awal, UAD membentuk tim 11 yang berang-gotakan 11 institusi pemerintah dan swasta.
Tim 11 tersebut, antara lain Dinas Kesehatan, Dis-perindakop, Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, Dinas Pertanian, Gabungan Pengusaha Jamu, Farmasi UAD, Asosiasi Spa Terapis Indonesia (ASTI), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).”Setiap bulan kami akan menga-dakan pertemuan untuk mam-bahas dan menyusun langkah apa saja yang harus dilakukan,” kata Kintoko, penggagas tim 11 sekaligus dosen Farmasi UAD di sela acara seminar bertema Meningkatkan Proses Sertifikasi Jamu ke Taraf Internasional di Hotel Royal Ambarrukmo, kemarin.
Seminar tersebut sebagai lang-kah awal untuk menggelorakan konsumsi jamu tradadisional dan spa khas Jogja. Di tempat yang sama, pantia menggelar loka karya bertema Jogjakarta Isti-mewa Menuju Kota Jamu. Dalam seminar dan loka karya ini, pa-nitia menghadirkan narasumber ahli obat-obatan tradisional asal Tiongkok dan Thailan.”Kami ingin warisan leluhur di-jaga dan dibudayakan. Kami ingin mengangkat budaya jamu dan spa asli Jogja bukan khas dae-rah lain,” kata Ketua DPD Asosi-asi Spa Terapis Indonesia (ASTI) DIJ Lastiani Warih Wulandari.
Menurut Wulan, sebagai kota wisata dan budaya, Jogjakarta memiliki daya lain yang poten-sial untuk dikembangkan, yaitu spa. Selama ini, spa yang ada di Kota Jogja belum mengadopsi nilai-nilai luhur peninggalan Keraton Mataram. Tercatat, ada sekitar 200 spa di Jogjakarta. Dari jumlah itu, hanya 30 persen saja yang mengadopsi nilai-nilai lokal wisdom, seperti peng-gunaan bahan terapi, pengelo-laan manajerial spa, dan pa-kaian seluruh pegawai spa.”Jika Bali memiliki khas spa, Jogja sudah selayaknya mengembangkan spa khas Jogja. Seluruh bahan terapi, motode, pengelolaan, dan pakaian yang digunakan terapi dan pegawai harus mengadopsi lokal wisdom,” papar pemilik Spa Putri Kedaton Group ini. (mar/jko/ong)