Ayunkan Pedang ke Siapa Saja yang Ketemu

SEDIKITNYA lima orang menjadi korban aksi tersangka Fakih dalam semalam. Rentetan peristiwa pembacokan bermula ketika Faqih alias Ketel mendatangi rumah ER usai Magrib. “Saat itulah Ketel bercerita kepada Paijo bahwa dirinya dimarahi bapaknya,” ungkap Kasatreskrim AKP Danang Bagus Anggoro
Faqih lantas meminjam pedang milik ER dan memintanya untuk memboncengkan dirinya keliling cari udara malam. Sesampai di Dusun Kepuhsari, Maguwoharjo, sekitar pukul 23.00, dua tersangka berpapasan dengan pengendara motor. Tanpa alasan, Faqih lantas menyabetkan pedang ke arah kepala korban. Setelah korban pertama, tersangka melaju sampai Karangsari, Wedomartani, Ngemplak dan berpapasan lagi dengan pengendara motor lain sekitar pukul 23.15.
Tersangka kembali mengayunkan pedangnya ke arah korban, hingga mengenai bagian dada.Itu tak menyurutkan aksi Faqih yang nekat menyabetkan pedang pada warga Karangsari yang sedang duduk-duduk di tepi jalan. Korban mengalami luka sayat di punggung.Naas bagi Nailul Mazda Az-zajid Ahmad yang berpapasan dengan tersangka di Jalan Andi Gebang, Wedomartani, sekitar pukul 23.30. Sabetan pedang tersangka menewaskan korban yang terkena sabetan pada pangkal leher. Korban tak tertolong dan menghembuskan napas terakhir di tempat kejadian perkara (TKP).
Aksi brutal tersangka berakhir menjelang tengah malam seki-tar pukul 23.45 di Dusun Kra-pyak, Wedomartani. Di tempat ini, tersangka juga mengayunkan pedangnya ke arah Eko Prase-tyo,15, yang sedang memboncengkan ayahnya. Warga Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, itu mengalami luka sayatan sepanjang 20 cm hingga mengenai pembuluh darah. Tersangka Faqih sendiri mem-benarkan bahwa dirinya mem-bacok orang lain lantaran kesal akibat sering dimarahi orang tuanya. Lulusan SMP di Sleman itu mengaku sering dibeda- bedakan dengan lima saudara kandungnya yang lain.”Saya memang minum (oplosan) dulu biar mabuk,” katanya, sambil meringis memegangi bagian yang terkena timah panas polisi.
Faqih berdalih hanya menyabetkan pedangnya satu kali pada tiap korbannya. Bahkan tanpa perasaan bersalah, dia sempat meminta ER agar mengarahkan motor ke Jalan Palgading untuk melihat keramaian di TKP tewasnya Nailul Mazda. “Cuma mampir sebentar lihat keadaan. Banyak polisi di situ,” ujarnya.
Sementara itu, tersangka ER juga telah ditangkap petugas Satreskrim Polres Sleman di rumahnya. ER mengakui pedang yang digunakan Faqih untuk membacok para korban sebagai miliknya. “Itu hanya pajangan,” dalihnya.
ER yang berstatus pelajar mengaku tak tahu soal rencana Faqih dengan pedangnya. “Katanya (Faqih) hanya untuk berjaga-jaga, ya saya pinjamkan saja,” beber ER yang mengaku takut dengan Faqih.
ER mengatakan, dirinya stres setiap kali memikirkan aksi Faqih. Sempat terpikir olehnya untuk menyerahkan diri kepada polisi ketika dia bolos sekolah selama seminggu karena galau.
Dari pendalaman pemeriksaan terhadap Faqih, polisi mendapati bahwa buruh serabutan itu juga terlibat pada aksi pembacokan di Sambego, Maguwoharjo. Namun, Faqih mengaku bukan pelaku utama. Dia beralasan membantu tiga temannya mencari seseorang yang dianggap musuh. Tapi, orang yang dicari tak ketemu.
Sebelum terjaring razia polisi, Faqih bersama komplotannya Tri Robani dan Sidik Satrio (keduanya warga Ngaglik), serta Fery Yuliantara (warga Maguwarjo) meluapkan kekesalan dengan menyerang Bayu Adi Anggara, 26. Warga Sorogenen, Purwomartani, Kalasan, itu diserang secara tiba-tiba saat bersepeda menuju rumahnya. Korban dikeroyok sehingga mengalami luka tangan kanan, siku kiri, lengan kanan, dan per-gelangan tangan. Kini, komplotan Faqih tersebut diperiksa intensif di Mapolsek Depok Timur. (yog/laz/ong)