DWI AGUS/RADAR JOGJA
KHAS CORETAN ANAK: Karya Bintang Tanatimur hadir dengan nuansa khas anak-anak. Tidak ada coretan gaya anak sanggar seni, namun lebih mengalir.
SLEMAN – Daya ekpresif dan imajinasi selalu mendatangkan ide untuk ber-karya seni. Kombinasi inilah yang coba dihadirkan oleh seorang anak bernama Bintang Tanatimur. Anak pasangan Mikke Susanto dan Rina Kurniyati ini berpameran tunggal dengan judul Jelang 10 Tahun Bintang Tanatimur.
Pameran seni rupa ini digelar di Rumah Seni Sidoarum, Godean, Sleman. Karya-karya yang disajikan memiliki ciri khas. Untuk lukisan, Bintang hadir dengan coretan-coretan imajiner namun tegas. Ini terlihat dalam beberapa karya yang dipamerkan di rumah seni ini.Sang ayah Mikke Susanto sangat mendukung aksi anak bungsunya ini. Menurutnya, semangat anak untuk berpameran wajib didukung. Selain mampu meningkatkan jiwa seni, juga keberanian tampil di depan umum.”Jika anak Anda gemar menggambar, fasilitasi saja semampunya. Jika ia menghabiskan kertas di buku-buku-nya, bantu dengan menerima ke-adaannya. Jika anak tak cukup hanya dengan kertas seadanya, siapkan diri Anda memodalinya. Jika ia mulai merengek minta pameran, bersiaplah menitikkan air mata,” kata Mikke kemarin (11/1).
Lebih lanjut tenaga pengajar di ISI Jogjakarta ini menilai, keinginan anak untuk berkesenian terbilang langka. Di tengah masa pertumbuhan, anak lebih senang untuk bermain. Namun bermain pun dapat diwujudkan dalam berkesenian.Karya Bintang sendiri hadir dengan nuansa khas anak-anak. Tidak ada coretan gaya anak sanggar seni, namun lebih mengalir. Semua karya hadir secara natural khas coretan bocah berumur sembilan tahun. Tentunya ini menjadi poin tersendiri unuk me-nikmati pameran yang tidak biasa.”Anak sejatinya memiliki daya imajinasi yang sangat bagus. Tidak masuk sanggar seni bukan berarti anak tidak bisa. Justru kita harus mendukung daya kreatif dan imajinasi murni yang dimiliki setiap anak. Anak berani menunjukkan kekhasannya sesuai dengan apa yang dirasakan,” tambah Mikke.Bintang telah memulai melukis sejak usia empat tahun.
Anak kelahiran Jogjakarta 18 Agustus 2005 ini me-nyelami lukis dari kedua orangtuanya. Bahkan anak ini juga kerap bersing-gungan dengan sahabat kedua orang-tuanya yang notabene para seni-man.Siswa kelas III SDIT Alam Nurul Islam Gamping, Sleman, ini mengibaratkan melukis seperti bercerita. Dalam ber-karya ia kerap mengabadikan segala yang dilihat, diolah, dan diimajinasi-kan. Beberapa objek seperti mobil, robot, makhluk hidup maupun hewan, hingga tontonan televisi ditorehkan keatas kanvas.Hebatnya, Bintang turut membuka donasi dalam pamerannya kali ini. Bekerjasama dengan Aksi Cepat Tang-gap (ACT) Jogjakarta, ia mendonasikan 50 persen dari hasil penjualan karyanya. Sumbangan ini untuk membantu ma-syarakat korban tanah longsor di Ka-bupaten Banjarnegara. (dwi/laz/ong)