DWI AGUS/RADAR JOGJAPENA DI KERTAS: Kesan hitam, tegas, namun tetap memiliki keindahan seni. Inilah yang selalu dihadirkan Oik Wasfuk dalam setiap goresan tangannya.

Bertajuk Pancal, Oik Wasfuk Pameran di Ace House Collective Jogjakarta

Ace House Collective Jogjakarta menghadirkan sebuah pameran dengan konsep unik. Bertajuk Pancal, pameran ini menyajikan karya seni dari Catur Nur Novianto atau yang akrab disapa Oik Wasfuk. Pameran menyajikan gambar dengan teknik tradisional yaitu pena di kertas.
DWI AGUS, Jogja
SELAIN karya yang dibungkus pigura, Oik juga menghadirkan produk-produk mer-chandise yang memuat karya ilustrasinya. Rata-rata karya ini tertuang dalam bebera-pa cover album musisi. Selain itu juga ter-cetak dalam kaos dengan ragam motif.”Meski tradisional, kenyataannya karya ini tetap diminati terutama untuk sam-pul album. Tidak hanya dalam lingkup lokal, karya ini juga masih mendapatkan tempat hingga musisi mancanegara,” kata Oik (10/11).Dalam pameran kali ini, dia bercerita tentang ruang-ruang kehidupan. Garis-garis absurd coba dihadirkan, terutama pemaknaan atas hidup dan mati. Selain itu juga mencerminkan reaksi atas segala macam peristiwa keseha-rian. Nilai ini lalu divisualisasikan dalam kerja kekaryaannya
Krisna Widyathama dari Ace House mengungkapkan, Oik adalah illustrator handal. Krisna menilai Oik memiliki potensi yang besar, sehingga wajar saja dia masuk dalam jajaran ilustra-tor kenamaan. Karya-karya Oik dinilai mampu menghiasi dunia musik, khususnya scene musik underground.”Keseharian mendegarkan musik keras dengan genre punk dan metal. Ini terlihat kontras dengan keahliannya dalam ber-karya. Di mana karyanya cen-derung rapi dan memiliki nilai artistik yang sangat indah,” kata Krisna.
Krisna melanjutkan, Oik dapat menggabungkan musik dan seni rupa secara apik. Musik tidak hanya berbicara tentang nada dan lirik. Untuk memper-kuat karakter, perlu adanya pengemasan yang baik. Goresan tangan Oik pun mampu meng-hidupkan konsep musik.Terlebih musik underground yang memiliki ciri khas music mencolok. Kesan hitam, tegas, namun tetap memiliki keindahan seni. Inilah yang selalu dihadir-kan Oik dalam setiap goresan tangannya. Bahkan kombinasi antara seni rupa dan musik mampu membuatnya konsisten berkarya.”Selain sebagai bentuk pro-mosi, kebutuhan akan artwork juga menjadi representasi atas identitas musik yang diusung,” kata Krisna.
Oik menambahkan, kedua hal ini saling melengkapi. Dalam berseni rupa dia terinspirasi dari musik yang didengarkan. Sepak terjangnya di skena mu-sik punk Jogjakarta juga terbilang lama. Sejak tahun 1997, Oik bergabung dengan Boikot, Sub-versiv, A Sistem Rijek?!. Bahkan sempat terlibat dalam D.O.M 65 dan beberapa band lain.”Aktivitas dan medan sosial inilah yang banyak berperan membentuk karakter karya dan cara berpikir saya,” tandas Oik. (*/laz/ong)