Layanan Masih Tak Optimal

MAGELANG – Rencana kenaikan tarif air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Magelang mendapat tanggapan negatif warga. Mereka menilai rencana kenaikan tarif sebesar Rp 100 per meter kubik sebagai kebijakan tidak prorakyat. Saat ini, kondisi masyarakat tengah limbung. Rakyat juga tengah menghadap berbagai kenaikan harga kebutuhan pokok. Ditambah lagi, pelayanan PDAM yang tidak optimal. Buktinya, masih ada masyarakat yang me-nerima dampak aliran air yang kurang lancar.
Sriyanto, salah satu warga Kampung Sanden, Kramat Selatan, Magelang Utara menilai, kenaikan tarif yang berbarengan dengan naiknya sejumlah kebutuhkan pokok sebagai kebijakan yang tidak tepat. Ia mengkritik momentum menaikkan.”Harga gas 12 kilogram meroket. Sedang-kan harga kebutuhan pokok lainnya masih tinggi, meskipun BBM sudah turun. Baru saja merasakan BBM turun, ini tariff dari PDAM rencanannya mau naik. Kurang pas momentumnya,” keluh Sriyanto kemarin (11/1).Ia meminta PDAM dan Pemkot Magelang mengkaji terlebih dahulu soal kenaikan tarif air. Sebab, ia memandang pelayanan dari PDAM juga kurang optimal
“Masih banyak pelanggan yang mengeluhkan rumahnya tidak teraliri air sampai berhari-hari. Juga galian pipa di jalan-jalan protokol yang perbaikannya asal, sehingga menimbulkan lubang baru,” kritik pria yang juga ketua DPC PKPI Kota Magelang ini.
Menurut Sriyanto yang juga mantan anggota DPRD ini, kenaikan tarif sebesar Rp100 per meter kubik tidak terlalu men-jadi beban warga. Asalkan, pelayanannya tetap dioptimal-kan.”Ada komplain langsung ber-gerak. Jangan dipaksa warga menunggu berhari-hari. Kayak gini kok mau naikin tarif, kan belum pas,” sindirnya.
Selain pelayanan kelancaran air di rumah warga, Sriyanto juga menyoroti galian PDAM di jalan-jalan protokol yang per-baikannya tidak maksimal. Lubang galian tidak ditutup menggunakan hotmix sesuai kondisi sebelumnya.”Justru terkesan asal-asal saja dengan aspal seadanya. Harusnya tidak begitu. Ada upaya memiliki hotmix khusus seperti jalan-jalan di Kota Magelang. Kalau seperti ini, warga juga yang merasakan. Baru sebentar lewat jalan mulus, tiba-tiba ada ranjau bekas galian PDAM,” kritiknya lagi.
Hal senada diutarakan Imron Rosadi, warga Perum Depkes, Kramat Utara, Magelang Utara. Imron merasa pelayanan PDAM tidak memuaskan, karena be-berapa kali aliran air macet.”Banyak masyarakat mengeluh karena aliran air ke rumah ter-putus. Sebabnya apa, PDAM enggak ada pemberitahuan,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, selama ini pe-layanan PDAM begitu buruk. Karenanya, ia minta perusahaan plat merah ini fokus memper-baiki layanan. Jadi, mereka tidak mencari-cari alasan terkait pe-layanan tersebut. Sebab, dampak dari mampet air ini menyusahkan warga se tempat.”Padahal masyarakat harus MCK setiap hari dan terpaksa datang ke daerah lain untuk mendapatkan air bersih. Fakta-nya, PDAM bisa sampai tiga hari mampet. Itu kan sangat menyusahkan,” katanya.
Imron mengaku tidak habis pikir dengan kondisi cuaca yang relatif bagus. Namun, distri-busi air bersih PDAM masih tak lancar. Ia dan pelanggan PDAM lain berharap ada penjelasan dari PDAM Kota Magelang soal tersebut.”Naik sih nggak masalah, yang penting aliran airnya jangan byar pet seperti ini,” pinta-nya.
Sebelumnya, Direktur PDAM Kota Magelang Heri Wibowo menyebut kenaikan tarif PDAM Rp100 per meter kubik mulai Januari ini merupakan kenaikan berkala yang diterapkan sejak 2011. Rencana kenaikan tarif telah memiliki payung hukum. Menurutnya, adanya kenaikan tidak bisa dihitung secara pasti terhadap pengaruh besaran tagihan pada 28.700 pelanggan PDAM Kota Magelang. Sebab, tagihan air bergantung dari kebutuhan rumah tangga.”Kalau dirata-rata kalangan menengah yang biasa mem-bayar Rp 40 ribu per bulan, ada-nya kenaikan bisa ada tambahan Rp 10 ribu – Rp 20 ribu per bulan-nya, bergantung dari konsumsi air,” katanya. (dem/hes/ong)