DWI AGUS/RADAR JOGJA
KARYA SOEKARNO: Yuni Satia Rahayu (kiri) dan J. Sumardianta (tiga dari kiri) saat mendiskusikan buku Sarinah di Planet Bookstore (12/1).

Tempatkan Wanita Tak Hanya Urus Dapur, Kasur, dan Sumur

Sebuah diskusi menarik berlangsung kemarin sore (12/1) di Planet Bookstore, Ringroad Utara, Sawitsari, Sleman. Obrolan kali ini membongkar buku berjudul Sarinah yang ditulis Ir Soekarno. Dalam buku ini, presiden pertama Indonesia ini mencurahkan pandangannya tentang wanita.
DWI AGUS, Jogja
DALAM buku ini, Soekarno ber-cerita secara panjang lebar. Baik pandangan mengenai wanita secara kodrati hingga pengaruh dalam ragam idealism. Bagaimana sosok Soekarno begitu mengagungkan wanita dan dapat mempengaruhi impian idealismenya.”Sosok Soekarno sendiri me-rupakan sosialis. Ada satu impian di mana dirinya berharap wanita tidak mengerjakan pekerjaan domestik. Semua kebutuhan ini akan dilayani oleh negara,” kata guru dan juga penulis J. Sumardi-anta dalam diskusi ini.Buku yang sempat hilang pada masa pemerintahan Presiden Soeharto ini menarik untuk di-baca. Sosok Soekarno, menurutnya adalah pengagung wanita. Tapi di sisi lain ada beberapa gerakan yang justru tak di dukung olehnya.Salah satunya adalah gerakan feminism di dunia barat. Menurut Sumardianta, Soekarno menentang dengan keras. Ini karena femini-sime justru akan memberikan jarak antara laki-laki dan wanita.”Ini karena Soekarno mendukung adanya patriarki. Tapi di sisi lain ia juga tidak ingin wanita tertindas. Sehingga dia menitikberatkan patriarki, namun tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita,” katanya.Dalam kesempatan ini hadir pula Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu
Menurut kacamatanya, buku ini memiliki pesan yang dalam. Dari segi judul, Soekarno se ngaja memilih nama Sarinah.Nama ini, lanjut pejabat yang berlatar belakang seorang akti-vis ini, adalah sosok penting dalam kehidupan Soekarno. Di mana saat kecil dirinya diasuh oleh wanita yang bernama Sa-rinah. Di mata Soekarno, Sarinah adalah sosok sederhana, namun memiliki peran penting dalam kehidupan.”Sarinah perlambang dari keberpihakan Soekarno pada wong cilik. Melalui buku ini, dia juga berharap wanita tidak hanya menjadi burung dalam sangkar emas. Terlihat indah, namun sejatinya bodoh dalam kualitas pemikiran dan tindakannya,” kata Yuni.Melalui buku ini Soekarno juga ingin menangkap potret wanita pada masa itu. Yuni pun men-dukung pendapat Sumardianta bahwa Soekarno memiliki ke-pedulian tinggi pada wanita.Tulisan yang terkandung pun menyoroti bagaimana pergera-kan wanita begitu kuat. Termasuk upaya Soekarno membendung gerakan feminisme masuk ke Indoneseia. Tapi di sisi lain, Soekarno menekankan penting-nya wanita mengambil peran dalam pembangunan negara.”Sejak terbit pertama tahun 1947, buku ini turut membuka mata. Menempatkan wanita tidak hanya pada urusan dapur, kasur dan sumur. Tapi juga mampu ber pikir kritis dalam memajukan bangsa,” katanya. (*/laz/ong)