SETIYAKI/RADAR JOGJA
FILM DOKUMENTER: Akhmad Nasir, Dodo Putra, dan Halik Sandera saat jumpa media kemarin.
JOGJA – Semakin berkurang-nya debit air di area perkotaan melahirkan ide pembuatan film dokumenter. Bertajuk Belakang Hotel, film berdurasi 40 menit ini menyorot kondisi air di Kota Jogja. Terutama daerah Kampung Miliran, Penumping dan Gowongan.Salah satu warga berdaya Jogja Akhmad Nasir mengungkapkan, gerakan ini adalah pemicu. Teru-tama dalam mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya menyoroti pembangu-nan hotel di wilayah Jogjakarta.”Saat ini perkembangan pem-bangunan hotel begitu pesat. Sebagai warga kita patut kritis dengan adanya hal ini. Terutama dalam menjaga kelestarian ling-kungan, khususnya air,” katanya saat jumpa media di Gedung PKKH UGM, kemarin (12/1).
Sesuai judulnya, film ini mem-gambil lokasi sisi belakang dari hotel. Salah satu kasus yang sempat mencuat adalah mengeringnya sumur warga di belakang Fave Hotel di Miliran, Umbulharjo, Jogja. Selain itu juga menyorot kampung Penumping dan Gowongan di tengah kota.
Film ini menggambarkan ba-gaimana perjuangan warga se-kitar dalam memperoleh air. Diawali dari rutinitas harian akan kebutuhan air. Selain itu untuk melengkapi film ini, juga turut menggandeng sejumlah jurna-lis televisi.”Tapi kita tidak serta merta menolak pembangunan hotel. Kita sadar bahwa hotel meru-pakan investasi. Sehingga, kita fokus menyorot pembangunan hotel yang bermasalah dengan lingkungan,” kata Nasir.
Film ini rencananya diputar Rabu lusa (14/1) di Gedung PKKH UGM. Selain pemutaran film, acara ini juga akan diselingi dis-kusi. Beberapa narasumber yang rencananya datang adalah Busyro Muqoddas, Eko Teguh Paripurno dari Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Jogja, dan warga dari ketiga kampung lokasi film.
Direktur Walhi Jogjakarta Halik Sandera berharap film ini nantinya dapat menjadi sebuah gerakan. Kesadaran untuk menjaga ling-kungan dari bahayanya kelang-kaan air. Peran aktif ini tidak hanya bagi masyarakat, namun juga unsur birokrasi pemerintahan.”Pasti akan terjadi diskusi yang menarik tentang permasalahan ini. Pertama tentang menolak hotel yang bermasalah, kedua bagaimana menggalang solida-ritas dari semua kalangan. Terakhir terkait perizinan hotel terutama dari pemerintah,” kata Halik.
Selain itu dirinya juga berharap agar masyarakat dapat mengad-vokasi lingkungan di wilayah masing-masing. Tidak hanya sekadar menjadi objek, namun subjek yang cenderung aktif. Pentingnya mengenal konsep pembangunan berkelanjutan.”Kelemahan yang terjadi, ter-kadang masyarakat sendiri tidak menyadari. Baru merasakan ketika masalah benar-benar hadir. Film ini pas untuk sebagai gerakan lingkungan,” katanya.Nasir menambahkan film ini nantinya akan diputar di beber-apa kampung di Jogjakarta. Tu-juannya, tentu saja sebagai media kesadaran lingkungan. Semakin luas jangkauan pemutaran, maka harapan sadar lingkungan sema-kin tinggi. (dwi/laz/ong)