RADAR JOGJA FILE
TERKENDALA LAHAN: Pameran perumahan di Jogja yang digelar November 2014 lalu. Semangat pengembang DIJ untuk menyediakan perumahan bagi masyarakat, terkendala makin sempitnya lahan yang diikuti dengan harga tanah yang terus meninggi.

REI Kesulitan Sediakan Perumahan Masyarakat

JOGJA – Memasuki 2015, sektor properti DIJ menghadapi tantan-gan besar. Keterbatasan lahan dan semakin tingginya harga tanah, menjadi persoalan yang akan di-hadapi para pengusaha properti di Jogjakarta.Ketua Real Estate Indonesia (REI) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) DIJ Andy Wijayanto mengatakan, selama ini, pusat perniagaan, kam-pus dan perkantoran masih ber-pusat di tiga wilayah, Sleman, Bantul dan Jogja. Sehingga lahan yang tersedia makin sedikit, dan harga terus melambung tinggi. Kondisi tersebut, membuat para pengembang mengalami kesulitan dalam menyediakan perumahan untuk masyarakat. “Sudah sempit, harganya juga tak terkendali,” ujar Andy di kantornya kemarin (12/1)
Dampaknya, pengembang kesu-litan mendapatkan lahan. Kalau pun ada lahan, karena pembelian-nya sangat tinggi, sehingga harga rumah yang ditawarkan kepada masyarakat juga menjadi mahal.”Dampaknya masyarakat men-engah ke bawah kesulitan mengak-ses perumahan di kawasan tersebut. Bila ini dibiarkan, berpo-tensi menimbulkan friksi pere-butan lahan secara tidak sehat,” tandasnya.Menurut Andy, seharusnya pemerintah mulai mengupayakan pergeseran pemukiman dari tiga wilayah tersebut melalui perun-dang-undangan yang lebih jelas. “Langkah itu harus dilakukan un-tuk menghindari ketimpangan lahan,” lanjutnya.
Untuk konsumen, 60 persen kon-sumen perumahan yang disuplai REI DIJ, adalah kalangan menengah dengan harga per satu unit rumah antara Rp 300 juta hingga Rp 500 juta. Selain itu REI juga menyuplai perumahan untuk segmen kelas menengah bawah tipe rumah 36 dengan harga Rp 105 juta ke bawah. “Untuk masyarakat kelas men-engah bawah, harga ini masih dianggap terlampau berat untuk kebutuhan akan rumah,” paparnya.
Namun pengembang tidak bisa berbuat banyak atas keluhan para calon pembeli, disebabkan 50 persen biaya rumah terletak pada harga tanah. Karena itu, untuk menyediakan tingkat hunian pada masyarakat kelas bawah, pemerin-tah harus terlibat dalam mengen-dalikan harga tanah “Ini sangat penting. Bagaimana kami menyediakan rumah yang terjangkau bagi masyarakat bawah, jika harga tanah terus melonjak,” jelasnya. (bhn/jko/ong)